Sejuta definisi, sejuta istilah dewasa ini diberikan kepada Indonesia. Berikut hanya sebuah sumbangan pemikiran Cak Nun yang ditulis berbelas tahun yang lalu dalam Iblis Nusantara Dajjal Dunia.
1. Sebuah negeri dengan deretan kerusuhan yang terus membakar dirinya tanpa dipastikan bahwa kali tertentu ia akan berhenti.
2. Sebuah negeri dengan tumpukan problem, yang tidak datang dari luar melainkan dari dalam diri mereka sendiri.
3. Sebuah negeri dengan akumulasi masalah, yang telah seribu kali disadari, seribu kali didiskusikan, seribu kali dinyatakan akan diatasi, namun seribu kali pula tidak pernah benar-benar diatasi, dan bahkan seribu kali pula masalah itu malahan ditambahi.
4. Sebuah negeri dengan hamparan kesenjangan, ketimpangan dan ketidakseimbangan yang tidak pernah sanggup direnungi.
5. Sebuah negeri yang penuh anugerah, namun tidak diproduksi darinya kemaslahatan dan kebahagiaan bersama.
6. Sebuah negeri yang semakin lama semakin membutuhkan kerusuhan buat mendapatkan kemungkinan untuk terbangun dari tidur panjangnya.
7. Sebuah negeri yang di leher gunung kekisruhannya ditemui oleh keteduhan Ramadhan, namun tidak mempengaruhinya untuk mengi’tikafi keadaan-keadaannya.
8. Sebuah negeri yang sedang dihantam oleh letusan gunung, oleh kobaran api demi api, namun tetap saja tidur nyenyak dalam ketentraman global yang tidak sehat.
9. Sebuah negeri yang bertele-tele dalam mengamati permasalahan dirinya, yang bertele-tele dalm menginsyafi bahwa sangat banyak soal mendasar yang harus diurusinya, serta yang bertele-tele dalam mengkoordinasikan segala kemungkinanuntuk bangkit dari ranjau-ranjau zaman yang diciptakannya sendiri.
10. Sebuah negeri yang sedang digoyang oleh berbagai hasil kelakuan zamannya sendiri, namun para penghuninya tidak menginisiatif-i kehendak bersama dalam skala nasional untuk memperbaiki kuda-kuda dan merancang suatu ketegak-kan dan keteguhan barus sebagai bangsa.
11. Sebuah negeri yang sangat memerlukan tangan-tangan saling berentang dan bergandengan, namun yang berlangsung justru tangan demi tangan sangat sibuk mengepalkan diri dan kekuasaan nya masing-masing.
12. Sebuah negeri yang sangat membutuhkan ‘orang tua’, namun yang tampil di panggung dan dibesar-besarkan oleh media massa justru adalah pemimpin-pemimpin bermental kanak-kanak yang justru sibuk menebar fitnah, dlon, sangkaan, aran-aran (prasangka dlm Jawa).
(Emha Ainun Nadjib, diambil dari mailist Maiyah Kenduri Cinta)
Rabu, 16 Juli 2008
Jumat, 11 Juli 2008
The End Of Wartel

Di zaman handphone maharajalela sekarang ini, kapan terakhir kali anda menggunakan jasa Warung Telekomunikasi alias Wartel? Saya sendiri lupa, kapan ya? Kalau ke warnet, ketika anda baca tulisan ini, ya mungkin saya baru beberapa jam/hari saja keluar warnet kemudian mampir ke warteg Mang Ali di deket kampus. Apakah ini mengindikasikan bahwa sarana telekomunikasi publik ini sudah dilupakan masyarakat?
Baiklah, berikut ini adalah penjelasan sekilas tentang Wartel yg saya kutip dari kamus Wikipedia. Warung telekomunikasi atau wartel adalah tempat yang disediakan untuk pelayanan jasa telekomunikasi untuk umum yang ditunggu baik bersifat sementara maupun tetap dan merupakan bagian dari telepon umum. Penunggu wartel adalah orang yang bekerja di dalam bangunan wartel yang bisa bersifat tetap maupun bergerak (wartel dengan memakai mobil boks).
Di dalam wartel terdapat kamar bicara umum (KBU) berisi pesawat telepon untuk digunakan pemakai jasa. Telepon di dalam kamar bicara umum bisa digunakan untuk pembicaraan telepon lokal, antarwilayah, interlokal (SLJJ), maupun sambungan langsung internasional. Biaya pemakaian jasa telekomunikasi dibayar langsung di tempat oleh konsumen sesuai tarif pulsa yang berlaku ditambah tarif pelayanan.
Penyelenggaraan jasa wartel paling sedikit menggunakan dua sambungan telekomunikasi. Pemilik wartel adalah perorangan, badan usaha milik daerah (BUMD), badan usaha milik swasta, atau koperasi. Sejak 8 Januari 1992, sudah terbentuk Asosiasi Pengusaha Wartel Indonesia (APWI). Selain itu, penyelenggaraan usaha ini juga diatur melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor: 05/PER/M.KOMINFO/I/2006.
Nah, kembali ke... persoalan saya yg me-lupa-kan Wartel. Purbo Daru Kusumo, praktisi Telematika, dalam tulisannya yg pernah dimuat di KOMPAS menyebut ada beberapa faktor yg membuat bisnis ini menjadi tidak menyenangkan lagi. Pertama, biaya investasi peralatan wartel cukup mahal. Bisa sampai Rp 1,25 juta hanya untuk satu unit KBU. Kedua, persaingan antar-wartel yg sudah sangat ketat. Letak satu wartel dengan wartel lain berjarak kurang dari 50 meter. Ketiga, masih terkait dengan persaingan, yakni dengan sarana komunikasi yang lain seperti telepon seluler. Orang yang tidak memiliki telepon rumah akan memilih berkomunikasi dengan menggunakan ponsel, terutama untuk komunikasi yang tidak lama, daripada harus berjalan keluar ke wartel terdekat, kata Purbo.
Lalu, mungkinkah bisnis wartel akan berakhir karena investor, atau setidaknya yg punya modal, lebih memilih buka usaha isi ulang pulsa? Jika ya, maka ijinkan saya untuk membuat tesis ala Fukuyama, (halah, gaya ne rek...) sebagai berikut; Sejarah wartel akan berakhir dengan kemenangan telepon seluler dan counter isi ulang pulsa. Ditambah sedikit individualisme, maka sempurnalah peristiwa The End of Wartel di Indonesia. Hahaha... mudah2an tidak terjadi class of telecommunication business antara APWI dengan pebisnis operator seluler. Hahaha...
Dulu, saat di rumah belum pasang line telepon dan belum punya ponsel, saya terbilang sering menggunakan jasa wartel. Dan wartel merupakan ruang publik tersendiri bagi sebagian orang untuk bersosialisasi. Ya, sekedar ngobrol santai sembari godain penjaga wartelnya, apalagi kalo penjaganya cantik atau ganteng. Hihihi...
Bahkan, tak jarang kisah dan romantisme cinta tumbuh diantara bilik-bilik KBU wartel. Ada yg pernah mengalami hal ini? saya pernah...! :) Udah ah, jangan diterusin. Nanti malah curhat deh.
Ya, begitulah... saudara-saudara! Ada yang tertarik untuk memilih bisnis wartel? atau sesekali mampirlah ke wartel. Sekedar bernostalgia begitu. Mumpung wartel belum benar2 punah dan dimuseumkan oleh Depkominfo. Kali aja penjaga wartelnya cantik/ganteng. []
Sumber foto : http://maxwellbd.blogdrive.com/images/cd02-ex.jpg
Rabu, 09 Juli 2008
Selamat Bahagia!
Langganan:
Komentar (Atom)



