Sabtu, 27 September 2008
Selamat Mudik - Selamat Sampai Tujuan
Siang itu, raut muka seorang pria masih dibalut kesedihan mendalam. Air matanya terlihat bercampur dengan sisa air wudlu. Aku dan rekanku langsung mendekati usai ia mengurus administrasi di Kamar Jenazah RSUD Gunung Jati Cirebon. Niatku mewawancara dia tentang musibah yang baru saja ia alami. Namun rekannya langsung menolak. “Maaf mas, kita masih shock,” katanya.
Aku mundur dan mengurungkan tugasku untuk wawancara. Aku mencoba mengerti dan menghormati keadaannya. Ia baru saja kehilangan adik tercintanya yang meninggal dalam kecelakaan di jalur Pantura Palimanan Cirebon saat hendak mudik ke Banyumas, Jawa Tengah. Harapan untuk bertemu dan berkumpul dengan keluarga saat lebaran nanti seakan musnah. Terlebih melihat kondisi sang adik yang diboncengnya tewas dengan kondisi mengenaskan. Kepala pecah dan tulang dada remuk tergilas roda truk kontainer.
Siang tadi, sepasang suami istri terbaring di UGD RSUD Gunung Jati Cirebon dengan kondisi luka parah. Mereka baru saja mengalami kecelakaan di Jalur Pantura Cirebon, tepatnya di daerah Ender saat hendak mudik ke Magetan Jawa Timur. Sepeda motor yang mereka tumpangi terjatuh kemudian dihantam bus dari arah belakang.
***
Lebaran sebentar lagi. Tradisi yang lekat dengan lebaran adalah mudik. Tiap tahunnya jumlah pemudik terus mengalami peningkatan. Jutaan orang hampir secara bersamaan pulang ke kampung halaman mereka.
Transportasi darat masih menjadi pilihan kebanyakan pemudik. Seperti dengan menggunakan mobil pribadi, bus umum, kereta api, bahkan sepeda motor. Belakangan pilihan mudik menggunakan sepeda motor terus meningkat. Tahun ini pemerintah memperkirakan jumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor sekitar 2,5 juta pemudik.
Sebenarnya sepeda motor bukanlah jenis kendaraan yang layak untuk digunakan sebagai sarana transportasi jarak jauh. Apalagi dengan membawa barang bawaan yang cukup banyak bahkan mengikutsertakan anak kecil atau balita.
Fenomena mudik dengan sepeda motor bukanlah tanpa sebab. Secara garis besar ini merupakan imbas dari kondisi perekonomian secara keseluruhan di negeri ini. Masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah, mencari berbagai alternatif agar mereka tetap bisa mudik dengan biaya yang lebih murah. Akhirnya pilihan tersebut jatuh pada penggunaan sepeda motor.
Selain itu maraknya berbagai jenis pembiayaan kredit sepeda motor juga turut menjadi faktor tersendiri. Berbagai kemudahan ditawarkan kepada masyarakat untuk dapat memiliki kendaraan roda dua ini. Cukup dengan uang muka ratusan ribu saja siapapun bisa punya motor meski secara kredit. Tidak heran ketika sepeda motor menjadi kendaraan primadona di masyarakat termasuk untuk digunakan mudik.
Meski tren mudik dengan sepeda motor cenderung meningkat, ternyata tidak serta merta membuat moda transportasi lainnya sepi. Bus umum, kereta api, kapal laut, dan pesawat terbang masih tetap disesaki para pemudik. Ini menunjukkan bahwa tradisi mudik benar-benar melibatkan begitu banyak warga negeri ini.
Terlepas dari apapun jenis transportasi yang digunakan tentunya keselamatan harus menjadi pertimbangan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Unsur keselamatan inilah yang kadang terabaikan begitu saja. Sehingga berbagai peristiwa kecelakaan terus membayangi jalannya arus mudik dari tahun ke tahun.
Sayangnya, pemerintah kita pun punya nilai kurang bagus dalam mengurusi keselamatan transportasi publik. Anjloknya sejumlah kereta api, terbakar dan tenggelamnya kapal laut, hingga meledaknya pesawat terbang yang berakhir tanpa kejelasan. Lengkap sudah kecelakaan yang menimpa berbagai moda transportasi di negeri ini dari darat, laut, sampai udara.
Selain motif ekonomi, muncul kecurigaan, bahwa maraknya pemudik yang menggunakan sepeda motor merupakan bentuk ketidakpercayaan masyarakat akan keselamatan transportasi public. Dengan mengendarai sepeda motor, setidaknya, kendali keselamatan ada di tangan mereka sendiri. Kelayakan kendaraan yang ditumpangi pun bisa mereka pastikan sendiri.
Bandingkan jika mereka harus menggunakan transportasi umum. Selain harus berdesakan, mereka pun kadang harus berurusan dengan calo tiket, pelaku tindak kriminal, mungkin juga oknum petugas yang nakal dan sebagainya. Belum lagi kelayakan alat transportasi yang tidak bisa mereka pastikan sendiri. Sebab, prosedur pemeriksaan kelaikan jalan pun tak jarang dilewatkan begitu saja. Dengan kondisi tersebut sulit kiranya memastikan bahwa penumpang akan mudik dengan aman, nyaman, tenang, dan selamat sampai tujuan.
Terakhir, faktor yang tak kalah penting adalah faktor psikologis masyarakat kita. Bagi mereka, mungkin, sampai di kampung halaman dengan menggunakan sepeda motor adalah sebuah kebanggaan. Dimana mereka harus menempuh jarak puluhan bahkan ratusan kilometer dan ‘bertarung’ di kerasnya jalur Pantura.
Wahai saudara-saudaraku, para pemudik, apapun kendaraan yang digunakan, utamakan keselamatan. Ungkapan alon-alon asal kelakon atau ngebut benjut, sepertinya tak ada salahnya untuk dipahami dan dipraktekkan di perjalanan pulang kampung.
SELAMAT MUDIK – SELAMAT SAMPAI TUJUAN.
Senin, 22 September 2008
Sepuluh Hari Terakhir
Bagaimana dengan Anda?
Tak usah dijawab dulu. Sebab, apa kepentingan kita dengan menanyakan hal itu kepada orang lain. Selain sekedar sebagai bahan obrolan menunggu bedug Maghrib, misalnya. Bukankah puasa adalah salah satu ibadah yang sangat pribadi. Yakni antara hamba dengan Tuhannya.
Tapi, aku tidak punya hak untuk menyalahkan atau melarang orang bertanya tentang itu. Aku hanya berpendapat bahwa, mungkin seperti itulah pemaknaan puasa yang ada di masyarakat kita. Bulan puasa seakan telah dijadikan sebagai sebuah momen tahunan yang harus disambut dan dirayakan.
Suatu bulan ibadah yang awalnya bertujuan menempa hamba Tuhan menjadi pribadi yang bertakwa, namun kemudian secara terus-menerus, dari tahun ke tahun, diarahkan menjadi rutinitas tahunan di masyarakat yang penuh dengan perayaan. Tak heran, jika di bulan puasa, ternyata masyarakat lebih sibuk, lebih antusias, untuk memikirkan makanan. Dan berbagai simbol yang telah sengaja dilekatkan pada bulan Ramadhan.
Kondisi ini semakin parah ketika dihadapkan dengan sistem-sistem ekonomi dan politik yang lebih luas. Dalam konteks ini, puasa sebagai bentuk kewajiban agama, melalui pemaknaan ekonomis, tertransfomasikan menjadi komoditas. Lihat saja, tiap menjelang Ramadhan, bahkan sejak jauh-jauh hari, masyarakat sudah dijejali dengan album religi, busana muslim, dan segala tetek bengek lain mengatasnamakan Ramadhan.
Sehingga, saat menjalankan puasa, masyarakat digiring untuk merasa tidak puas, kurang afdhol, kurang khusyu’, ketika mereka belum atau tidak mengkonsumsi segala bentuk komoditas yang ditawarkan di pasar. Mungkin sebagian dari kita ada yang menganggap ini sebagai sebuah keberkahan bulan suci Ramadhan. Karena segala yang ditawarkan akan habis terjual di pasaran. Benarkah ?
Puasa atau tidak puasa, itu sudah menjadi tanggungjawab tiap individu yang menjalankannya. Semoga Tuhan menerima ibadah puasa dan ibadah-ibadah kita lainnya di bulan Ramadhan ini. Amin.
Kamis, 18 September 2008
ZLT = Zakat Langsung Tewas
Awal pekan ini kita dikejutkan dengan peristiwa memilukan yang terjadi di Pasuruan, Jawa Timur. 21 ibu-ibu tewas dan puluhan lainnya luka-luka saat ribuan warga miskin antri untuk mendapatkan uang zakat sebesar 30 ribu rupiah dari seorang pengusaha.
Cara pembagian zakat harta secara langsung masih banyak dilakukan oleh dermawan-dermawan di sekitar kita. Mereka biasanya mengundang atau mengumpulkan warga miskin untuk menerima uang. Dan kebanyakan diadakan pada bulan Ramadhan di tiap tahunnya.
Entah, apa alasan para dermawan yang masih membagikan zakat harta secara langsung. Padahal saat ini sudah banyak lembaga atau badan amil zakat yang siap menyalurkan zakat dari masyarakat. Sejumlah pihak menduga, hal ini dikarenakan ada krisis kepercayaan masyarakat terhadap kinerja lembaga atau badan yang bertugas mengelola dana zakat, infaq, dan shodaqoh.
***
Dulu, waktu masih SMA, aku pernah ditugaskan untuk mengajar anak-anak di sebuah Madrasah. Saat itu aku kebagian untuk menyampaikan materi tentang akidah akhlak. Ada beban sebenarnya ketika aku harus jadi ‘guru’ pelajaran yang satu ini. Lha wong hingga hari ini saja aku belum tentu menjalankan hidup dengan akhlakul karimah. Hehehe…
Satu bagian pelajaran yang gampang aku ingat sampai saat ini adalah tentang bahaya berbohong. Dalam buku pelajaran itu disebutkan bahwa berbohong adalah tindakan tidak terpuji dan harus dihindari. Jika kita terbiasa berbohong, berarti kita sedang mendekati ancaman bahaya berbohong. Saat kita berkata jujur sekalipun, orang tidak akan pernah percaya kepada kita. Itulah bahaya dari kebiasaan berbohong.
***
Segala bentuk kebohongan yang ada di sekitar kita, di rumah, di kampus, di tempat kerja, kantor pemerintahan, dan sebagainya sangat mungkin menumbuhkan krisis kepercayaan terhadap para pelakunya. Termasuk kepada para pengelola dana zakat, infaq, dan shodaqoh selama ini. Sehingga para dermawan lebih senang membagikan langsung zakat harta mereka.
Zakat tentu tidak sama dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang pembagiannya penuh skandal, manipulasi, dan korup. Jika kasus Pasuruan kemarin tidak dijadikan pelajaran untuk segera membenahi pengelolaan zakat di negeri ini, maka Departemen Agama sebaiknya segera membuat program Zakat Langsung Tunai (ZLT). Dan kemudian aku akan langsung memplesetkannya menjadi Zakat Langsung Tewas!
Sabtu, 06 September 2008
Dunia Baru - Semangat Baru

Menjalani hal baru memang (selalu) menyenangkan. Tapi, segala sesuatu yang baru tentu butuh penyesuaian, butuh waktu untuk proses adaptasi. Sampai kita benar-benar menyelami pekerjaan itu hingga menjadi suatu hal yang tak pantas disematkan kata ‘baru’. Berapa lama waktu yang dibutuhkan? Pastinya tergantung pribadi masing-masing yang menjalankannya. Bukan begitu?
Setelah hengkang dari tempat kerjaku yang dulu di media cetak, kini aku merambah dunia baru, dunia (per) televisi (an). Hampir satu bulan ini aku bekerja di Radar Cirebon Televisi (Jawa Pos Grup) sebagai reporter. Sebuah stasiun TV lokal yang cukup menjanjikan, katanya. Radar Cirebon Televisi (RCTV) merupakan stasiun TV lokal Cirebon yang kedua. Karena sebelumnya juga sudah ada Cirebon TV yang lebih dulu tayang, tepatnya setahun yang lalu. Belum apa-apa, sudah muncul lawakan kalau singkatan RCTV menggambarkan stasiun TV ini adalah perpaduan antara RCTI dan SCTV! Hahaha…
Sebenarnya aku merasa agak ngejlug ketika harus bergabung dengan stasiun TV. Meski masih berada pada jalur jurnalistik, paling tidak sekarang aku harus merubah fokus dalam menjalankan tugas. Ketika bekerja sebagai wartawan cetak, aku tumpahkan segala kemampuanku untuk mengolah suatu peristiwa menjadi berita melalui kata-kata. Sekarang, aku harus memulai belajar memperoleh rekam gambar yang bagus. Ya, setidaknya yang sesuai dengan standar yang dibataskan oleh redaktur. Terlebih ketika aku juga belum begitu akrab dengan handycam. Tapi, sepertinya aku harus belajar cepat menggunakan ‘senjata’ baruku ini.
Yaaah… doakan sajalah, saudara-saudara. Semoga aku segera mengerti pekerjaan baruku ini. Dan menjadi orang-orang pertama yang berhasil membangun RCTV menjadi stasiun TV lokal yang membanggakan. []