Ucu Agustin, Lucky Kuswandi, Nia Dinata, dan Ani Ema Susanti saat menghadiri pemutaran perdana film dokumenter PERTARUHAN di Bioskop 21 Grage Mall Cirebon, Senin (27/04).
Libur Senin kemarin cukup menyenangkan. Tak cuma bisa istirahat, melupakan sejenak rutinitas kerja, tapi juga bisa jalan-jalan ke Grage Mall dan nonton di bioskop 21. Gratis pula! Saat duit gaji belum turun, duit di dompet cekak, memang paling asyik dapet yang gratisan. Penting tuh! Hehe…
***
Seminggu sebelumnya, seorang teman yang aktif di Fahmina Institute memberiku tiket gratis nonton pemutaran film dokumenter bertajuk PERTARUHAN. Sebuah antologi film dokumeter garapan Kalyana Shira Films dan Kalyana Shira Foundation yang selama ini hanya diputar di bioskop-bioskop Jakarta dan Bandung. Di Jakarta, PERTARUHAN sudah dirilis sejak 10 Desember tahun lalu. Lumayan lama juga. Tapi, bagi aku dan warga Cirebon yang menonton, PERTARUHAN adalah sebuah suguhan film yang baru.
Pemutaran perdana film PERTARUHAN di Cirebon dihadiri juga oleh sang produser Nia Dinata bersama sejumlah penulis/sutradara film dokumenter PERTARUHAN. Antara lain Ucu Agustin, Lucky Kuswandi, dan Ani Ema Susanti. Film berdurasi 106 menit yang terdiri dari 4 judul ini merupakan dokumenter kolektif yang berkisah tentang berbagai kontroversi seputar tubuh perempuan yang telah lama menjadi perdebatan di sekitar kita.
PERTARUHAN dimulai dengan MENGUSAHAKAN CINTA karya Ani Ema Susanti. Sebuah kisah tentang kehidupan buruh migran di Hongkong. Riantini dan Ruwati adalah WNI yang memilih menjadi TKW di Hongkong karena pendapatan yang lebih memadai daripada di Indonesia. Selain itu, di Hongkong mereka juga mendapatkan kebebasan dalam otonomi tubuh. Seperti Riantini, di perantauan ibu satu anak ini memilih menjadi seorang lesbian. Namun ia takut membawa pulang hubungan cintanya saat kembali ke Indonesia. Sementara Ruwati adalah seorang lajang yang usianya sudah mencapai kepala empat. Ruwati kerap gamang karena keperawanannya sempat dipertanyakan oleh Yanto, calon suaminya di Malang, Jawa Timur, gara-gara ia pernah menjalani operasi melalui alat kelaminnya.
Kemudian PERTARUHAN membawa para penonton melihat UNTUK APA? yang menggambarkan semrawutnya kepercayaan dan konteks di balik praktek sunat perempuan. Di negeri ini, praktek sunat atau khitan pada anak perempuan diterima secara luas oleh berbagai kalangan dengan alasan untuk ‘membersihkan’ anak tersebut dari spirit setan yang akan mengarahkannya menjadi liar. Meski demikian, sampai sekarang masih banyak orang yang tidak sadar akan adanya praktek itu. Dalam film karya Ucu Agustin ini terjadi diskusi atau mungkin perdebatan sejumlah tokoh perempuan terkait praktek sunat pada perempuan.
Masih berkaitan dengan tubuh perempuan. Selanjutnya PERTARUHAN membuka mata kita betapa susahnya perempuan dengan status ‘lajang’ ketika hendak memeriksakan kesehatan reproduksinya. NONA NYONYA? mengisahkan perempuan-perempuan ibu kota yang berusaha mendapatkan akses pelayanan kesehatan namun terbentur persepsi moral pihak obstetri dan ginekolog. Persepsi para petugas medis (kebidanan atau kandungan) terhadap perempuan lajang adalah mereka yang tidak berhubungan seksual. Oleh sebab itu, jika ada pasien berstatus lajang yang datang untuk minta diperiksa, petugas medis justru lebih sibuk ‘memeriksa’ moralitas pasien yang bersangkutan. Bahkan seorang dokter berceramah tentang moral secara panjang lebar lebih dulu ketika seorang perempuan lajang meminta diperiksa Pap Smear. Intinya NONA NYONYA? mempertanyakan pentingnya kesehatan versus penilaian moral.
Terakhir, PERTARUHAN ditutup RAGAT’E ANAK dengan cerita dua perempuan, Nur dan Mira. Mereka berdua adalah pekerja seks di Gunung Bolo Tulungagung, Jawa Timur. Gunung Bolo adalah kompleks kuburan Cina yang berbentuk bukit. Di malam hari, kompleks kuburan ini beralih fungsi menjadi lokasi prostitusi liar. Namun, selain berprofesi sebagai pekerja seks, Nur dan Mira juga bekerja sebagai pemecah batu. Pagi hari mereka memecah batu dan malamnya bekerja di Gunung Bolo. Meski sepanjang hari mereka bekerja keras namun pendapatannya tidak pernah mencukupi. Semua itu mereka lakukan untuk membiayai kebutuhan anak.
***
Tertarik untuk nonton? coba aja klik di http://www.kalyanashirafound.org dan cari info bagaimana untuk mendapatkan DVD film PERTARUHAN. Katanya sih mereka akan bagi-bagi DVD film PERTARUHAN kepada masyarakat umum yang menginginkannya. Mudah-mudahan dibagi secara gratis juga. Hehehe... []