Kita didera oleh banyak persoalan. Kita menjadi lelah. Kita ingin terbebas dari kelelahan itu. Cara kita membebaskan diri dari persoalan bukanlah dengan berpolitik atau berdemonstrasi. Cara kita membebaskan diri dari persoalan adalah dengan menulis. Tulisan kita harus menjadi obat yang dapat menyembuhkan kelelahan dan kegelisahan kita. (Shindunata) Sengaja tulisan ini saya buka dengan kalimat-kalimat Shindunata di atas. Berharap ada sedikit dorongan untuk (tetap) menulis (lagi) meski diterpa banyak masalah. Harus diakui, masalah mendasar dari tumpukan masalah yang saya hadapi ternyata aktifitas menulis itu sendiri. Saya masih gagap, mungkin juga gugup, ketika harus menulis.
Saya harus menulis. Mengekspresikan dan mengaktualisasikan apa yang terserap panca indera di kehidupan sehari-hari. Karena di sana ada pengetahuan mungkin juga kegelisahan, yang harus saya sampaikan dan diberitakan kepada dunia. Sayangnya, itu tak berjalan semudah menyalakan komputer dan membuka MS Word. Atau segampang menjejali playlist Winamp dengan koleksi lagu-lagu terbaru dan terfavorit.
Syukurlah, saya masih punya semangat dan harapan untuk selalu menulis. Karena dengan semangat dan harapanlah saya akan tetap hidup. Muhammad Iqbal, dalam sajak-sajaknya, mendedahkan harapan sebagai sebuah kehidupan. Harapan harus dicapai dengan kerja keras dan usaha yang terus-menerus. Berjuang mewujudkan harapan lebih lezat ketimbang pencapaiaanya, kata Iqbal.
Kegiatan menulis pada dasarnya adalah konsekuensi logis dari praksis natural membaca. Tak ada kegiatan menulis tanpa membaca. Begitupun sebaliknya. Tuhan telah menganugerahi saya (manusia) dengan kodrat sebagai ‘insan-pembaca’ (homo recitatus). Manusia tidak bisa menghindar dari kegiatan membaca. Sejak mengetahui bahwa segala yang ada di sekitar saya adalah tanda-tanda. Baik yang terepresentasikan dalam bentuk simbol, gambar, huruf, terukir maupun tercetak.
Saya tercipta sebagai insan-pembaca. Pun halnya dengan Muhammad, seorang buta huruf yang ditakdirkan menjadi rasul penutup, mendapat tugas keilahian pertamanya dengan seruan: Bacalah! Membaca adalah laku alami manusia yang menjadi esensi dari keberadaan manusia itu sendiri. Aktifitas membaca merupakan bagian dari proses pembentukan kebudayaan dan peradaban masyarakat yang maju.
Ketika saya merasa kesulitan untuk menulis, maka saya harus menengok aktifitas membaca saya selama ini. Sudahkah saya meluangkan waktu untuk membaca buku, koran, majalah, dan bahan bacaan lainnya – misal tulisan-tulisan di blog teman atau siapapunlah.
Di sini, di dunia maya ini, saya menjumpai orang-orang merayakan kodratnya sebagai homo recitatus. Jaring-jaring bit komputer mempertemukan mereka di sini. Aneka rupa ekspresi yang menggelegak tentang kehidupan mereka dedahkan.
Saya berharap lebih. Ini bukan sekedar perayaan apalagi pelarian dari realitas kehidupan yang penuh kemunafikan. Ini harus jadi penguatan budaya bangsa Indonesia yang gemar baca-tulis. Scripta manent verba volant, yang tertulis akan mengabadi yang terucap akan berlalu bersama angin.
TALK LESS, WRITE MORE. Hehehe....
8 komentar:
setuju! lah itulah gunanya ngeblog!!!
hai pa kbr?
rupaya kamu penggemar letto jga,aku jga suka lagu2 mereka lirikya mudah,simpel tapi eanak di dengar.
pa lagi ruang rinduya woooooow jadi pingin bisa mask ruang rindu ja haaaaaaaaa/
teruslah berkarya kkata2 mu bagus jga lho good luck
thx,,,,,,,,,asyh
karena dengan menulis apa yg tersimpan jauh dilubuk hati kita bisa terkomunikasikan dengan lancar,..yang kadang tak mungkin bisa kita ucap dengan lisan.
ayoo..jang bosen menulis meski itu cuman coretan perasaan...
Paling suka quote yang ini:
"Ketika saya merasa kesulitan untuk menulis, maka saya harus menengok aktifitas membaca saya selama ini."
Yup..Spakaat, U/ bs nulis,alias biar ad ide,mang hrs bnyk baca je.. Btw,mksh dah brkunjung ke blog ku ya.. :)
u/ vina: ya begitulah, READ MORE! tq
u/ lia: we never blog alone! hehehe... jadi inget Liverpool nih... tq
maju terus boss..
sip bos terus maju... tq
Posting Komentar