
Di zaman handphone maharajalela sekarang ini, kapan terakhir kali anda menggunakan jasa Warung Telekomunikasi alias Wartel? Saya sendiri lupa, kapan ya? Kalau ke warnet, ketika anda baca tulisan ini, ya mungkin saya baru beberapa jam/hari saja keluar warnet kemudian mampir ke warteg Mang Ali di deket kampus. Apakah ini mengindikasikan bahwa sarana telekomunikasi publik ini sudah dilupakan masyarakat?
Baiklah, berikut ini adalah penjelasan sekilas tentang Wartel yg saya kutip dari kamus Wikipedia. Warung telekomunikasi atau wartel adalah tempat yang disediakan untuk pelayanan jasa telekomunikasi untuk umum yang ditunggu baik bersifat sementara maupun tetap dan merupakan bagian dari telepon umum. Penunggu wartel adalah orang yang bekerja di dalam bangunan wartel yang bisa bersifat tetap maupun bergerak (wartel dengan memakai mobil boks).
Di dalam wartel terdapat kamar bicara umum (KBU) berisi pesawat telepon untuk digunakan pemakai jasa. Telepon di dalam kamar bicara umum bisa digunakan untuk pembicaraan telepon lokal, antarwilayah, interlokal (SLJJ), maupun sambungan langsung internasional. Biaya pemakaian jasa telekomunikasi dibayar langsung di tempat oleh konsumen sesuai tarif pulsa yang berlaku ditambah tarif pelayanan.
Penyelenggaraan jasa wartel paling sedikit menggunakan dua sambungan telekomunikasi. Pemilik wartel adalah perorangan, badan usaha milik daerah (BUMD), badan usaha milik swasta, atau koperasi. Sejak 8 Januari 1992, sudah terbentuk Asosiasi Pengusaha Wartel Indonesia (APWI). Selain itu, penyelenggaraan usaha ini juga diatur melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor: 05/PER/M.KOMINFO/I/2006.
Nah, kembali ke... persoalan saya yg me-lupa-kan Wartel. Purbo Daru Kusumo, praktisi Telematika, dalam tulisannya yg pernah dimuat di KOMPAS menyebut ada beberapa faktor yg membuat bisnis ini menjadi tidak menyenangkan lagi. Pertama, biaya investasi peralatan wartel cukup mahal. Bisa sampai Rp 1,25 juta hanya untuk satu unit KBU. Kedua, persaingan antar-wartel yg sudah sangat ketat. Letak satu wartel dengan wartel lain berjarak kurang dari 50 meter. Ketiga, masih terkait dengan persaingan, yakni dengan sarana komunikasi yang lain seperti telepon seluler. Orang yang tidak memiliki telepon rumah akan memilih berkomunikasi dengan menggunakan ponsel, terutama untuk komunikasi yang tidak lama, daripada harus berjalan keluar ke wartel terdekat, kata Purbo.
Lalu, mungkinkah bisnis wartel akan berakhir karena investor, atau setidaknya yg punya modal, lebih memilih buka usaha isi ulang pulsa? Jika ya, maka ijinkan saya untuk membuat tesis ala Fukuyama, (halah, gaya ne rek...) sebagai berikut; Sejarah wartel akan berakhir dengan kemenangan telepon seluler dan counter isi ulang pulsa. Ditambah sedikit individualisme, maka sempurnalah peristiwa The End of Wartel di Indonesia. Hahaha... mudah2an tidak terjadi class of telecommunication business antara APWI dengan pebisnis operator seluler. Hahaha...
Dulu, saat di rumah belum pasang line telepon dan belum punya ponsel, saya terbilang sering menggunakan jasa wartel. Dan wartel merupakan ruang publik tersendiri bagi sebagian orang untuk bersosialisasi. Ya, sekedar ngobrol santai sembari godain penjaga wartelnya, apalagi kalo penjaganya cantik atau ganteng. Hihihi...
Bahkan, tak jarang kisah dan romantisme cinta tumbuh diantara bilik-bilik KBU wartel. Ada yg pernah mengalami hal ini? saya pernah...! :) Udah ah, jangan diterusin. Nanti malah curhat deh.
Ya, begitulah... saudara-saudara! Ada yang tertarik untuk memilih bisnis wartel? atau sesekali mampirlah ke wartel. Sekedar bernostalgia begitu. Mumpung wartel belum benar2 punah dan dimuseumkan oleh Depkominfo. Kali aja penjaga wartelnya cantik/ganteng. []
Sumber foto : http://maxwellbd.blogdrive.com/images/cd02-ex.jpg
7 komentar:
saya pernah mas (paragraf dua dari terakhir).. hahaha.. tapi lain dulu lain sekarang mas, seperti yg diuraikan diatas, mungkin dulu tarif wartel masih relatif murah, saya pernah ngalamin tarif 1 pulsa diwartel seharga Rp 85,- untuk lokal. jadi bawa uang Rp3000 untuk saat itu bisa tenang....hehe lha klo sekarang? mending pake ponsel kan?
tapi saya yakin wartel masih menjadi pilihan org2 yg kehabisan pulsa ditengah perjalanan. saya masih ke wartel kq, meski ga sesering dulu :D tp ga minat utk bisnis wartel..hahahaa.
sudah mampir ke Wartel?
di dekat kampusku ada sebuah wartel yang mungkin belum mati. tapi dia punya bisnis lain yaitu jual air minum isi ulang.
Soal wartel, dia rada serius mendesainnya. di dalam bilik terdapat aquarium berisi ikan2 kecil, jadi kalo kita nelpon pasti terhibur dan betah berlama2. pintar kan strateginya?
wartel belum hancur menurutku, liat saja yang di dekat kampus/kost, dekat terminal. tulisan ini sudah menyingkap dari angle lain?
aquarium? boleh juga tuh...
Emang bener, kalo dipikir-pikir, tahun berapa aku terakhir kali masuk ke Wartel, ya?
terakhir ke warnet, udah lamaaaaa.. jangan2 hampir setaun ini sy dah mampir ke warnet lagi. kasian juga ya tukang warnet.. bisnisnya turun, tp ada daya.. teknologi terus berkembang..
@vina: klo di Seoul ada wartel ga ya? sebutannya apa?
@dee: ya gtu deh... :)
Posting Komentar