Kecelakaan di jalan raya adalah sumber utama kematian, luka-luka dan cacat dalam masyarakat modern. Bahkan tingkat kematian yang tinggi dan luka-luka di jalan raya diterima oleh pemerintah dan warga Negara pada umumnya hampir tanpa keberatan. Namun itu semua bisa dikurangi secara masif jika kebijakan-kebijakan lebih mementingkan keselamatan umum. (The End of The Road, Wolfgang Zuckermann)
Siang itu, raut muka seorang pria masih dibalut kesedihan mendalam. Air matanya terlihat bercampur dengan sisa air wudlu. Aku dan rekanku langsung mendekati usai ia mengurus administrasi di Kamar Jenazah RSUD Gunung Jati Cirebon. Niatku mewawancara dia tentang musibah yang baru saja ia alami. Namun rekannya langsung menolak. “Maaf mas, kita masih shock,” katanya.
Aku mundur dan mengurungkan tugasku untuk wawancara. Aku mencoba mengerti dan menghormati keadaannya. Ia baru saja kehilangan adik tercintanya yang meninggal dalam kecelakaan di jalur Pantura Palimanan Cirebon saat hendak mudik ke Banyumas, Jawa Tengah. Harapan untuk bertemu dan berkumpul dengan keluarga saat lebaran nanti seakan musnah. Terlebih melihat kondisi sang adik yang diboncengnya tewas dengan kondisi mengenaskan. Kepala pecah dan tulang dada remuk tergilas roda truk kontainer.
Siang tadi, sepasang suami istri terbaring di UGD RSUD Gunung Jati Cirebon dengan kondisi luka parah. Mereka baru saja mengalami kecelakaan di Jalur Pantura Cirebon, tepatnya di daerah Ender saat hendak mudik ke Magetan Jawa Timur. Sepeda motor yang mereka tumpangi terjatuh kemudian dihantam bus dari arah belakang.
***
Lebaran sebentar lagi. Tradisi yang lekat dengan lebaran adalah mudik. Tiap tahunnya jumlah pemudik terus mengalami peningkatan. Jutaan orang hampir secara bersamaan pulang ke kampung halaman mereka.
Transportasi darat masih menjadi pilihan kebanyakan pemudik. Seperti dengan menggunakan mobil pribadi, bus umum, kereta api, bahkan sepeda motor. Belakangan pilihan mudik menggunakan sepeda motor terus meningkat. Tahun ini pemerintah memperkirakan jumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor sekitar 2,5 juta pemudik.
Sebenarnya sepeda motor bukanlah jenis kendaraan yang layak untuk digunakan sebagai sarana transportasi jarak jauh. Apalagi dengan membawa barang bawaan yang cukup banyak bahkan mengikutsertakan anak kecil atau balita.
Fenomena mudik dengan sepeda motor bukanlah tanpa sebab. Secara garis besar ini merupakan imbas dari kondisi perekonomian secara keseluruhan di negeri ini. Masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah, mencari berbagai alternatif agar mereka tetap bisa mudik dengan biaya yang lebih murah. Akhirnya pilihan tersebut jatuh pada penggunaan sepeda motor.
Selain itu maraknya berbagai jenis pembiayaan kredit sepeda motor juga turut menjadi faktor tersendiri. Berbagai kemudahan ditawarkan kepada masyarakat untuk dapat memiliki kendaraan roda dua ini. Cukup dengan uang muka ratusan ribu saja siapapun bisa punya motor meski secara kredit. Tidak heran ketika sepeda motor menjadi kendaraan primadona di masyarakat termasuk untuk digunakan mudik.
Meski tren mudik dengan sepeda motor cenderung meningkat, ternyata tidak serta merta membuat moda transportasi lainnya sepi. Bus umum, kereta api, kapal laut, dan pesawat terbang masih tetap disesaki para pemudik. Ini menunjukkan bahwa tradisi mudik benar-benar melibatkan begitu banyak warga negeri ini.
Terlepas dari apapun jenis transportasi yang digunakan tentunya keselamatan harus menjadi pertimbangan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Unsur keselamatan inilah yang kadang terabaikan begitu saja. Sehingga berbagai peristiwa kecelakaan terus membayangi jalannya arus mudik dari tahun ke tahun.
Sayangnya, pemerintah kita pun punya nilai kurang bagus dalam mengurusi keselamatan transportasi publik. Anjloknya sejumlah kereta api, terbakar dan tenggelamnya kapal laut, hingga meledaknya pesawat terbang yang berakhir tanpa kejelasan. Lengkap sudah kecelakaan yang menimpa berbagai moda transportasi di negeri ini dari darat, laut, sampai udara.
Selain motif ekonomi, muncul kecurigaan, bahwa maraknya pemudik yang menggunakan sepeda motor merupakan bentuk ketidakpercayaan masyarakat akan keselamatan transportasi public. Dengan mengendarai sepeda motor, setidaknya, kendali keselamatan ada di tangan mereka sendiri. Kelayakan kendaraan yang ditumpangi pun bisa mereka pastikan sendiri.
Bandingkan jika mereka harus menggunakan transportasi umum. Selain harus berdesakan, mereka pun kadang harus berurusan dengan calo tiket, pelaku tindak kriminal, mungkin juga oknum petugas yang nakal dan sebagainya. Belum lagi kelayakan alat transportasi yang tidak bisa mereka pastikan sendiri. Sebab, prosedur pemeriksaan kelaikan jalan pun tak jarang dilewatkan begitu saja. Dengan kondisi tersebut sulit kiranya memastikan bahwa penumpang akan mudik dengan aman, nyaman, tenang, dan selamat sampai tujuan.
Terakhir, faktor yang tak kalah penting adalah faktor psikologis masyarakat kita. Bagi mereka, mungkin, sampai di kampung halaman dengan menggunakan sepeda motor adalah sebuah kebanggaan. Dimana mereka harus menempuh jarak puluhan bahkan ratusan kilometer dan ‘bertarung’ di kerasnya jalur Pantura.
Wahai saudara-saudaraku, para pemudik, apapun kendaraan yang digunakan, utamakan keselamatan. Ungkapan alon-alon asal kelakon atau ngebut benjut, sepertinya tak ada salahnya untuk dipahami dan dipraktekkan di perjalanan pulang kampung.
SELAMAT MUDIK – SELAMAT SAMPAI TUJUAN.
8 komentar:
halo, bang fahmi..
selamat berkutat dengan padatnya jalur mudik ya. ati-ati di jalan, pesen saya jangan suka nyolek pantat orang, siapa tahu disangka nyopet.. he he just kidding.. ^_^
ati2 di jalan bro! see you around
@donlenon: boro2 nyolek, bos. liat jalanan yang semrawut aja aku udah pusing.....
fahmi, capek gak jadi jurnalis?
@antown: pertanyaan yg sangat bagus! namanya juga kerja, bro. lha, klo kamu capek gak tiap hari nggambar? hayo...!?
mengenaskan..
spt yg saya liat bbrp taun lalu waktu mo mudik ke jogja.. :(
angka korban kecelakaan meninggal pada mudik ini meningkat 2 kali lebih banyak dari tahun lalu
@dee: tahun ini ga mudik?
@masciput: tapi pihak kepolisian menyatakan sebaliknya, lho. gimana tuh?
No mudik for this year!
I work at home!
Posting Komentar