Senin, 22 September 2008

Sepuluh Hari Terakhir

Ramadhan telah memasuki sepuluh hari terakhir. Beberapa hari ini aku mendengar obrolan bernuansa evaluatif dari teman dan rekan kerja. “Eh, kamu udah batal berapa hari?” tanya seorang teman. “Alhamdulillah, sampai hari ini puasaku belum bolong,” jawab teman yang lain. “Wah, kalau aku udah batal tiga hari. Maklum, aku kan cewek. Hari ini aja aku nggak puasa. Lagi dapet nih,” sahut seorang teman perempuan.

Bagaimana dengan Anda?

Tak usah dijawab dulu. Sebab, apa kepentingan kita dengan menanyakan hal itu kepada orang lain. Selain sekedar sebagai bahan obrolan menunggu bedug Maghrib, misalnya. Bukankah puasa adalah salah satu ibadah yang sangat pribadi. Yakni antara hamba dengan Tuhannya.

Tapi, aku tidak punya hak untuk menyalahkan atau melarang orang bertanya tentang itu. Aku hanya berpendapat bahwa, mungkin seperti itulah pemaknaan puasa yang ada di masyarakat kita. Bulan puasa seakan telah dijadikan sebagai sebuah momen tahunan yang harus disambut dan dirayakan.

Suatu bulan ibadah yang awalnya bertujuan menempa hamba Tuhan menjadi pribadi yang bertakwa, namun kemudian secara terus-menerus, dari tahun ke tahun, diarahkan menjadi rutinitas tahunan di masyarakat yang penuh dengan perayaan. Tak heran, jika di bulan puasa, ternyata masyarakat lebih sibuk, lebih antusias, untuk memikirkan makanan. Dan berbagai simbol yang telah sengaja dilekatkan pada bulan Ramadhan.

Kondisi ini semakin parah ketika dihadapkan dengan sistem-sistem ekonomi dan politik yang lebih luas. Dalam konteks ini, puasa sebagai bentuk kewajiban agama, melalui pemaknaan ekonomis, tertransfomasikan menjadi komoditas. Lihat saja, tiap menjelang Ramadhan, bahkan sejak jauh-jauh hari, masyarakat sudah dijejali dengan album religi, busana muslim, dan segala tetek bengek lain mengatasnamakan Ramadhan.

Sehingga, saat menjalankan puasa, masyarakat digiring untuk merasa tidak puas, kurang afdhol, kurang khusyu’, ketika mereka belum atau tidak mengkonsumsi segala bentuk komoditas yang ditawarkan di pasar. Mungkin sebagian dari kita ada yang menganggap ini sebagai sebuah keberkahan bulan suci Ramadhan. Karena segala yang ditawarkan akan habis terjual di pasaran. Benarkah ?

Puasa atau tidak puasa, itu sudah menjadi tanggungjawab tiap individu yang menjalankannya. Semoga Tuhan menerima ibadah puasa dan ibadah-ibadah kita lainnya di bulan Ramadhan ini. Amin.

6 komentar:

Antown mengatakan...

amieenn.... mungkin sudah 9hari lagi ya?

oya bro, ente dapat tags di blogku. silakan diliat.

http://antownholic.com/?p=87

dee mengatakan...

klo ada yg nanya soal bolong puasa sih sy jawab aja mas fahmi.. kan ga makruh :D

Anonim mengatakan...

ketika kita akan kedatangan orang yg dicintai, gembira dan buru2 mempersiapkan penyabutan pun ketika kita mau di tinggalkan kekasih langsung menangis dan meratap. Begitulah ilustrasi orang2 shaleh terdahulu dalam menyambut bulan suci, bulan "kekasih" orang2 sholeh, bulan yang di "cintai" Alloh dan Rosulnya. Namun kita umat masa kini tidak bisa mencontoh para pendahulunya dengan benar.....

Ciput Mardianto mengatakan...

mumpung kita masih dikasih kesempatan gunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya

dee mengatakan...

mas fahmi menjelang lebaran, maap lahir batin ya.. smg ibadah kita diterima allah swt.. met lebaran :D

Fahmi FR mengatakan...

@antown: thanks for your tags
@dee: emang dee batal berapa hari?
@nirmana: tidak mudah utk mengikuti sesuatu yang terpaut 14 abad lalu
@masciput: yuuk mariiii...