Kamis, 18 September 2008

ZLT = Zakat Langsung Tewas


Awal pekan ini kita dikejutkan dengan peristiwa memilukan yang terjadi di Pasuruan, Jawa Timur. 21 ibu-ibu tewas dan puluhan lainnya luka-luka saat ribuan warga miskin antri untuk mendapatkan uang zakat sebesar 30 ribu rupiah dari seorang pengusaha.


Cara pembagian zakat harta secara langsung masih banyak dilakukan oleh dermawan-dermawan di sekitar kita. Mereka biasanya mengundang atau mengumpulkan warga miskin untuk menerima uang. Dan kebanyakan diadakan pada bulan Ramadhan di tiap tahunnya.

Entah, apa alasan para dermawan yang masih membagikan zakat harta secara langsung. Padahal saat ini sudah banyak lembaga atau badan amil zakat yang siap menyalurkan zakat dari masyarakat. Sejumlah pihak menduga, hal ini dikarenakan ada krisis kepercayaan masyarakat terhadap kinerja lembaga atau badan yang bertugas mengelola dana zakat, infaq, dan shodaqoh.


***


Dulu, waktu masih SMA, aku pernah ditugaskan untuk mengajar anak-anak di sebuah Madrasah. Saat itu aku kebagian untuk menyampaikan materi tentang akidah akhlak. Ada beban sebenarnya ketika aku harus jadi ‘guru’ pelajaran yang satu ini. Lha wong hingga hari ini saja aku belum tentu menjalankan hidup dengan akhlakul karimah. Hehehe…


Satu bagian pelajaran yang gampang aku ingat sampai saat ini adalah tentang bahaya berbohong. Dalam buku pelajaran itu disebutkan bahwa berbohong adalah tindakan tidak terpuji dan harus dihindari. Jika kita terbiasa berbohong, berarti kita sedang mendekati ancaman bahaya berbohong. Saat kita berkata jujur sekalipun, orang tidak akan pernah percaya kepada kita. Itulah bahaya dari kebiasaan berbohong.


***


Segala bentuk kebohongan yang ada di sekitar kita, di rumah, di kampus, di tempat kerja, kantor pemerintahan, dan sebagainya sangat mungkin menumbuhkan krisis kepercayaan terhadap para pelakunya. Termasuk kepada para pengelola dana zakat, infaq, dan shodaqoh selama ini. Sehingga para dermawan lebih senang membagikan langsung zakat harta mereka.


Zakat tentu tidak sama dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang pembagiannya penuh skandal, manipulasi, dan korup. Jika kasus Pasuruan kemarin tidak dijadikan pelajaran untuk segera membenahi pengelolaan zakat di negeri ini, maka Departemen Agama sebaiknya segera membuat program Zakat Langsung Tunai (ZLT). Dan kemudian aku akan langsung memplesetkannya menjadi Zakat Langsung Tewas!

5 komentar:

Anonim mengatakan...

aku juga nggak habis pikir bisa2 nya dua 21 orang tewas

Vina Revi mengatakan...

Jadi inget jokes tentang Depag nih, Mi. Katanya Depag itu justru merupakan departemen yang paling korup. Karena orang-orangnya paling ngerti gimana cara bertobat. :)

Fahmi FR mengatakan...

@ciput: ya jelas bisa, lha wong negeri ini sudah jadi hutan rimba, siapa kuat dia dapat, siapa tdk kuat sekarat!
@vina revi: hahaha.... itu bukan jokes, bu. it's trully Depag!

Vina Revi mengatakan...

waks, serius lah, Mi?
duh, moga-moga nggak ada pejabat Depag ato anaknya pejabat Depag yang rajin ng-blog dan kebetulan baca commentku diatas, ya. :)

Fahmi FR mengatakan...

@vina: santai, bu. org2 Depag lagi sibuk tobat di bulan puasa ini. hihihi....