Sabtu, 28 Juni 2008

Meneguhkan Kodrat Homo Recitatus

Kita didera oleh banyak persoalan. Kita menjadi lelah. Kita ingin terbebas dari kelelahan itu. Cara kita membebaskan diri dari persoalan bukanlah dengan berpolitik atau berdemonstrasi. Cara kita membebaskan diri dari persoalan adalah dengan menulis. Tulisan kita harus menjadi obat yang dapat menyembuhkan kelelahan dan kegelisahan kita. (Shindunata)

Sengaja tulisan ini saya buka dengan kalimat-kalimat Shindunata di atas. Berharap ada sedikit dorongan untuk (tetap) menulis (lagi) meski diterpa banyak masalah. Harus diakui, masalah mendasar dari tumpukan masalah yang saya hadapi ternyata aktifitas menulis itu sendiri. Saya masih gagap, mungkin juga gugup, ketika harus menulis.

Saya harus menulis. Mengekspresikan dan mengaktualisasikan apa yang terserap panca indera di kehidupan sehari-hari. Karena di sana ada pengetahuan mungkin juga kegelisahan, yang harus saya sampaikan dan diberitakan kepada dunia. Sayangnya, itu tak berjalan semudah menyalakan komputer dan membuka MS Word. Atau segampang menjejali playlist Winamp dengan koleksi lagu-lagu terbaru dan terfavorit.

Syukurlah, saya masih punya semangat dan harapan untuk selalu menulis. Karena dengan semangat dan harapanlah saya akan tetap hidup. Muhammad Iqbal, dalam sajak-sajaknya, mendedahkan harapan sebagai sebuah kehidupan. Harapan harus dicapai dengan kerja keras dan usaha yang terus-menerus. Berjuang mewujudkan harapan lebih lezat ketimbang pencapaiaanya, kata Iqbal.

Kegiatan menulis pada dasarnya adalah konsekuensi logis dari praksis natural membaca. Tak ada kegiatan menulis tanpa membaca. Begitupun sebaliknya. Tuhan telah menganugerahi saya (manusia) dengan kodrat sebagai ‘insan-pembaca’ (homo recitatus). Manusia tidak bisa menghindar dari kegiatan membaca. Sejak mengetahui bahwa segala yang ada di sekitar saya adalah tanda-tanda. Baik yang terepresentasikan dalam bentuk simbol, gambar, huruf, terukir maupun tercetak.

Saya tercipta sebagai insan-pembaca. Pun halnya dengan Muhammad, seorang buta huruf yang ditakdirkan menjadi rasul penutup, mendapat tugas keilahian pertamanya dengan seruan: Bacalah! Membaca adalah laku alami manusia yang menjadi esensi dari keberadaan manusia itu sendiri. Aktifitas membaca merupakan bagian dari proses pembentukan kebudayaan dan peradaban masyarakat yang maju.

Ketika saya merasa kesulitan untuk menulis, maka saya harus menengok aktifitas membaca saya selama ini. Sudahkah saya meluangkan waktu untuk membaca buku, koran, majalah, dan bahan bacaan lainnya – misal tulisan-tulisan di blog teman atau siapapunlah.

Di sini, di dunia maya ini, saya menjumpai orang-orang merayakan kodratnya sebagai homo recitatus. Jaring-jaring bit komputer mempertemukan mereka di sini. Aneka rupa ekspresi yang menggelegak tentang kehidupan mereka dedahkan.

Saya berharap lebih. Ini bukan sekedar perayaan apalagi pelarian dari realitas kehidupan yang penuh kemunafikan. Ini harus jadi penguatan budaya bangsa Indonesia yang gemar baca-tulis. Scripta manent verba volant, yang tertulis akan mengabadi yang terucap akan berlalu bersama angin.

TALK LESS, WRITE MORE. Hehehe....

Jumat, 27 Juni 2008

Inna Lillahi

Kalau Tuhan menganugerahi saya rejeki, tentu saja biasanya saya ucapkan alhamdulillah. Tapi sering juga saya ucapkan inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Artinya, segala sesuatu, termasuk rejeki yang saya terima serta diri saya sendiri ini, adalah milik Allah, berasal dari Allah dan kembali juga kepada Allah. Persoalan saya hanyalah bagaimana menentukan cara agar rejeki di tangan saya ini bisa kembali kepadanya melalui proses yang baik serta memproduk kemuliaan nilai hidup. Jadi saya harus memilih dengan seksama apakah rejeki ini saya pakai untuk membiayai keburukan, kejahatan, kemaksiatan atau perusakan sosial. Ataukah saya gunakan untuk memproduksi pertolongan bagi sesama, untuk menciptakan perimbangan ekonomi dengan tetangga, menyumbang keadilan sosial, atau produk-produk lain yang disukai oleh Allah dan para malaikatNya. (Emha Ainun Nadjib/Seri PadangBulan (140)/1999/PmBNetDok)

Senin, 23 Juni 2008

Panggilan Tak Terjawab

Sebuah cerita pendek, dan mungkin mengada-ada, ini khusus buat yang sibuk di tengah malam hingga pagi hari untuk telepon berlama-lama. Ya, semacam perayaan tarif telepon yang murah. Selamat membaca....


Jam sembilan malam. Wardoyo masih terjaga di dalam kamarnya. Di atas kasur tanpa dipan setengah tubuhnya ia sandarkan ke tembok sambil menghadapi layar televisi. Sesekali tangan kanannya yang memegangi remote ia acung-acungkan ke arah TV.

Malam itu tak ada satu pun acara TV yang bisa membuat Wardoyo melepaskan remote dan berhenti memencet-mencet tombolnya. Terang saja, sampai beberapa lama ia terus sibuk menggonta-ganti channel.

Wardoyo sedang menunggu sesuatu hingga tengah malam nanti. Empat Mata ? Bukan ! Fenomena ? Bukan ! Liga Champions; Chealse vs Liverpool ? Bukan juga ! Apa dong ?. Niatannya menonton TV hanya untuk menemaninya agar tetap terjaga. Pokoknya malam ini ia tak boleh terlelap dan tidur !

Sebab, tadi siang Wardoyo kena damprat pacar barunya, Prastiwi. Kemarin malam ia absen menelpon pujaan hatinya yang anak semester dua itu. “Maaf, neng. Tadi malem aku ketiduran,” bujuk Wardoyo ketika mereka berdua bertemu di Perpustakaan. “Ketiduran? alasan aja,” bantah Prastiwi sambil cemberut. “Kalo gitu Neng sumpahin, nanti malem kamu ketiduran (tertimpa) lemari yang gede. Biar nggak bisa bangun sekalian !” lanjutnya dengan nada sewot plus ngambek. “Jangan gitu dong. Kok jahat banget sih ama pacar sendiri,” sergah Wardoyo sambil terus merayu.

Pertemuan itu kemudian berakhir dengan kesepakatan; Wardoyo akan dan harus menelpon Prastiwi tiap malam. Awalnya Wardoyo kurang setuju dengan kesepakatan ini. “Kalo malem nelpon ke sesama ***** kan murah,” ujar Prastiwi. Belum sempat Wardoyo menanggapi, sang cewek melanjutkan penjelasan paket hemat telpon di malam hari. Lengkap dengan hitungannya dari jam, menit, sampai detik. Persis sekali seperti iklan yang ada di TV dan koran-koran. Dan Wardoyo pun hanya bisa mengangguk mendengarnya.

Kini, hampir satu jam Wardoyo masih memainkan remote TV-nya. Namun kali ini kantuk mulai menggerayanginya. Dua matanya sayup memandangi layar kaca di depannya. Wardoyo meraih ponselnya yang sejak tadi ia biarkan tergeletak di sampingnya. Baru jam sepuluh kurang tujuh menit. Artinya, ia masih harus menunggu setidaknya satu jam lagi untuk bisa telpon Prastiwi dengan tarif yang murah.

Wardoyo mulai gusar. Di tengah kantuk yang menyerangnya ia masih sempat membayangkan betapa marahnya Prastiwi jika ia tertidur dan tidak menelponnya lagi malam ini. “Awas ! kalo nanti malem nggak nelpon, kita putus !” begitu ancam sang pacar tadi siang. Wardoyo mencoba melawan kantuk.

Sepertinya Wardoyo sudah mulai payah menahan rasa kantuknya. Sesekali ia menguap panjang dan membiarkan mulutnya terbuka lebar-lebar. Jika sudah menguap macam ini, yang paling enak adalah melanjutkannya dengan memejamkan mata dan tidur. Tidak boleh ! Wardoyo terperanjat. Dengan penuh beban ia mencoba membelalakkan kedua matanya memandangi TV yang masih menyala. Usahanya itu hanya mampu bertahan beberapa menit saja. Setelah itu ia terlelap lagi, terjaga lagi, terlelap lagi, terjaga lagi, dan…..
***

Ponsel Wardoyo berdering, satu pesan singkat diterima. “Pasti dari Prastiwi,” tebaknya. Namun ia salah, ia mendapati pesan dengan nomer pengirim yang aneh, 000-000-0000. “Secantik-cantiknya nomer, ga ada deh yang kayak gini,” katanya dalam hati. “Provider baru apa ya ?” tanya Wardoyo masih dalam hati. Ia kemudian membaca isi pesannya yang tak kalah aneh.

Sbgian org brgmbra mnymbut mlm, krn mrk akn brmesraan dgn Tuhan. Kala mthri trbit, mrk brsdih krn ursn dunia bgtu mnyibukkn.

Kening Wardoyo mengernyit. Ia merasa heran dengan isi pesan yang ia terima tersebut. Namun ia tak mau ambil pusing. Jempolnya hampir saja menekan options – delete, namun ia urungkan niatnya itu. Ia kemudian meletakkan kembali ponselnya. Tapi tak lama berselang, tititit tiiit…tit tititit – tititit tiiit…tit tititit. Wardoyo langsung menyambar ponsel didekatnya. 1 message received, buru-buru ia membukanya, berharap itu pesan dari pacarnya. Hah… ! Wardoyo terperanjat, pesan dari nomer aneh lagi ?!

Tiga hal yg mninggikn drjt adlh mmbri mkn org lain, mnybrkn slm kdmaian, dan shalat mlm ktka org lain sdg tdr.

Kini Wardoyo terpaksa mau ambil pusing dengan pesan-pesan yang baru saja ia baca. Tangannya masih menggenggam ponsel, Wardoyo seperti sedang berpikir. Lalu, jempolnya mulai bergerak menapaki tombol, options – reply. Ia mengetik sebuah pesan balasan, singkat saja. Sapa neh ? kemudian send. Wardoyo menunggu, namun hanya beberapa detik layar ponselnya bertuliskan, message failed. Wardoyo mencoba lagi, tapi gagal lagi, coba lagi, tetap gagal. Huh ! ia mulai kesal. Tiba-tiba sebuah pesan kembali masuk ke ponselnya.

Imam Syafi’i mmbagi mlm mnjdi 3 bagian : utk mnulis, utk shalat, dan utk tdr. Dia slalu mntpi pmbgian ni scra konsisten.

Begitu isi pesan yang baru saja dibaca Wardoyo. “Ini bukan pesan sembarangan,” ucapnya mencoba menangkap makna. “Tapi siapa pengirim pesan mulia tapi aneh ini ? malaikat ?” ujar Wardoyo pusing. “Masa sih malaikat bisa sms-an.” Kini Wardoyo mulai sibuk dengan pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Sementara itu message alert tone berbunyi kembali dari ponselnya.

Wardoyo, jgnlah ayam jntn lbh crds drpd dirimu. Ia brko2k di akhir mlm. Smntra kmu msih trtdr pls.

“Gila, ni makhluk kok bisa tau namaku segala,” Wardoyo semakin kesal. Sempat terlintas di benaknya untuk mematikan ponselnya. Tapi itu tak bisa mengalahkan rasa penasarannya. Setelah membalas sms gagal, kini ia mencoba menghubunginya. Ia mengetik nomer aneh itu, 000-000-0000 kemudian call.

Harap-harap cemas Wardoyo melakukan penyelidikannya. Sampai beberapa saat, panggilannya tidak juga tersambung. Wardoyo mengulanginya lagi. Kini ia mulai mendengar suara dari seberang. Namun bunyinya tak seperti sambungan telepon pada umumnya, hanya suara desir angin yang lembut. Suara dari seberang itu kemudian menghilang.

Wardoyo mencoba menghubunginya lagi. Dari ponselnya, ia kembali mendengar suara desir angin. Dan kali ini dibarengi dengan suara yang lamat-lamat membaca sebuah ayat al Quran. Wardoyo merapatkan ponselnya lebih dekat ke telinga kanannya. Suara di seberang mulai terdengar jelas. Wa minal laili fatahajjad bihii naafilatan laka, ‘asaa an yab’atsaka maqaaman mahmudaa. Wardoyo tercengang, mulutnya seperti terkunci rapat dan tak bisa mengucap sepatah kata pun.

Seiring menghilangnya suara itu, Wardoyo mulai merasakan hembusan angin di seberang benar-benar keluar dari dalam ponselnya dan masuk ke dalam telinganya. Wardoyo panik dan berusaha menjauhkan ponsel dari telinganya namun tak bisa. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh Wardoyo. Ia terus berusaha melepaskan ponsel yang semakin menempel di telinganya dan terus menghembuskan angin kencang. Wardoyo berteriak seraya melepaskan ponsel dari telinganya dan itu berhasil kemudian melempar ponselnya ke pojok kamar. Aaaaaaaaahhhhhh….!!!

***

Wardoyo terjaga dari tidurnya. Nafasnya tersengal dan dua matanya terbelalak memandangi seisi kamarnya. Tak lama pandangannya terhenti, ia mendapati ponselnya masih utuh. “Huuhh…. untung cuma mimpi,” ujarnya lega sambil memungut ponsel yang tergeletak tak jauh darinya. Pada saat itu juga ia melihat pesan panggilan tak terjawab di ponselnya, 1 missed call.
Wardoyo enggan membuka daftar panggilan tak terjawab di ponselnya. Ia termenung, seperti sedang merangkai ingatan tentang mimpinya barusan. Tangannya masih menggenggam ponsel. Namun si ibu jari belum bergerak, masih terdiam. Ia khawatir nomer aneh dalam mimpinya benar-benar menghubunginya.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Wardoyo. Ini membuatnya makin terdiam. Ingatannya kini benar-benar tertuju pada peristiwa yang terjadi dalam mimpinya. Wardoyo butuh beberapa saat untuk mengumpulkan kekuatan untuk membuka SMS itu. Kemudian, “Bismillah….” ia merapal do’a dan membukanya. Ternyata SMS dari Prastiwi, isinya “KITA PUTUS…!”. Hah…! Wardoyo baru tersadar, ia lupa menelepon Prastiwi tadi malam. []

Sabtu, 21 Juni 2008

Tuhan, Mudahkanlah Aku Untuk Bangun Pagi

Aku memulai pagi yang baru. Kemarin pagi, tadi pagi, besok pagi, dan pagi-pagi yang akan datang. Aku harus menemani Emak berjualan di pasar. Sebenarnya ini tidak murni aktifitas baru bagiku. Sebelumnya, setiap Minggu pagi aku mendapat giliran ke pasar.

Jujur, aku tidak ada masalah dengan tugas baru ini. Lagi pula tugas ke pasar sekedar menemani saja. Selepas Shubuh aku sudah bisa pulang. Bahkan, aku mungkin harus bersyukur karena dengan begitu setidaknya aku bisa berbuat sesuatu kepada Emak. Betapa durhakanya diriku jika menolak tugas ini. Hampir semua yang aku terima dan ada pada diriku - sandang, pangan, sekolah, kuliah, dan sebagainya - adalah hasil jerih payah Emak berjualan di pasar.

Satu masalah yang harus aku ungkapkan di sini adalah; bangun pagi. Entah mengapa kemudian bangun pagi muncul menjadi seperti hambatan bagiku. Emak berangkat ke pasar sekitar jam 03.30 dini hari. Otomatis aku juga harus bangun jam segitu. Sebenarnya Emak sering menyarankan aku untuk bangun di sepertiga malam terakhir. Emak tidak pernah bosan mengajak agar aku bisa sholat Tahajjud sebagaimana yang biasa ia lakukan tiap hari. "Manfaate dudu kanggo sapa-sapa, kanggo ira dewek." Begitulah ucapan Emak setiap kali menyampaikan ajakannya itu.

Maaf, Mak. Aku belum bisa sepertimu. Bersimpuh dan bersujud di saat orang-orang, termasuk aku, masih tertidur. Emak tahu, untuk bangun jam 03.30 saja aku belum bisa terjaga sendiri. Aku masih harus dibangunkan, diuprak-uprak olehmu. Dengan begitu pun aku masih agak susah. Apakah aku pemalas? Semoga aku akan mulai terbiasa dengan bangun pagi.

Tuhan, mudahkanlah aku untuk bangun pagi...

[ada yang punya jurus jitu untuk bangun pagi? berbagilah denganku. terima kasih]

Kamis, 12 Juni 2008

Televisi dan Eksploitasi Nafsu Makan


Makan dan minum merupakan kebutuhan paling primitif umat manusia. Kemudian kita menyebut kebutuhan ini sebagai kebutuhan pokok. Sebuah kebutuhan untuk mempertahankan eksistensi kehidupan manusia di bumi ini selain kebutuhan akan sandang dan papan.

Salah satu yang menarik dari pembicaraan tentang kebutuhan pangan adalah adanya pergulatan manusia dalam mengatasi lapar dan hausnya dari masa ke masa. Dimana untuk pemenuhan kebutuhan ini saja umat manusia telah mengalami perjalanan evolusi yang cukup panjang.

Mulai dari cara hidup nomaden yang cukup dengan makan dedaunan seadanya. Kemudian beralih pada pola hidup berkelompok dengan berburu dan meramu (food gathering). Dan sampai pada kehidupan kita sekarang yang banyak menciptakan kemudahan dan bermacam jenis makanan.

Abraham Malinowski, seoarang antropolog, menjelaskan fenomena ini melalui teori evolusi kebutuhan. Menurut Malinowski, kebutuhan manusia yang semakin kompleks sejatinya merupakan derivasi dari berbagai kebutuhan dasar. Kebutuhan manusia akan terus berkembang dari bentuknya yang sederhana hingga yang paling canggih.

***

Di negeri ini, setidaknya dalam beberapa tahun terakhir, aktifitas makan dan juga minum cukup mendapat perhatian yang cukup serius. Hampir seluruh stasiun televisi beramai-ramai menayangkan program acara bertema kuliner. Inilah konsekuensi dari sikap pengelola stasiun televisi yang lebih mementingkan rating dibanding pertimbangan lainnya.

Rating adalah sistem yang digunakan untuk mengukur banyaknya penonton tayangan, yang paling tidak minimum satu menit atau bahkan 17 detik. Sistem ini melulu berurusan dengan kuantitas dan sama sekali tidak memperhitungkan kualitas suatu tayangan. Padahal, sistem rating dalam sejarahnya ditumbuhkan dalam perspektif memenuhi kewajiban perlindungan terhadap masyarakat. (Sunardian Wirodono, 2006: 91)

Melalui tayangan-tayangan bertema kuliner, aktifitas makan dan minum digambarkan serta diarahkan pada sesuatu yang tidak lagi sekedar sebagai ritual untuk mengatasi lapar dan haus. Di sini kegiatan makan dan minum mulai diboncengi dengan makna-makna simbolik tertentu dan dengan cara-cara tertentu pula. Simak saja apa yang dilakukan Bondan Winarno setiap kali usai menyantap berbagai hidangannya, “Mak Nyoos!”, atau kata “Ajiiib!” yang diucapkan Fauzi Badila.

Itulah sebetulnya hakikat dari proses penciptaan budaya konsumerisme. Budaya konsumerisme adalah budaya konsumsi yang ditopang oleh proses penciptaan ‘diferensi’ secara terus menerus lewat penggunaan ‘citra’, tanda, dan makna simbolik dalam proses konsumsi. Ia juga budaya belanja yang proses perubahan dan perkembangannya didorong oleh logika ‘hasrat’ dan ‘keinginan’, ketimbang logika kebutuhan. (Yasraf A. Piliang, 2004: 296)

Berbagai jenis masakan ‘dihidangkan’ dan ‘diantar’ langsung ke rumah-rumah melalui tayangan ini. Mulai dari yang tradisional di pelosok-pelosok nusantara sampai masakan internasional di restoran-restoran terkenal. Itu semua diciptakan sebagai cara untuk mengeksploitasi dorongan-dorongan hasrat para pemirsanya. Maka jangan heran jika di satu kesempatan anda akan ngiler menonton tayangan seperti ini.

Jika tren tayangan jenis ini berlangsung lama, maka entah apa jadinya bangsa ini. Setiap hari masyarakat akan dijejali dengan berupa-rupa makanan sehingga yang mereka pikirkan hanya berkutat pada urusan perut. Pagi ini sarapan apa? Nanti siang makan di mana? Nanti malam makan dengan siapa? Dan setumpuk daftar perburuan makanan lainnya.

Beberapa pertanyaan di atas kemudian dengan sendirinya akan menjadi sebuah paradoks di masyarakat kita. Terlebih ketika pemerintah tak juga mampu mengatasi kemiskinan, pengangguran, dan masalah sosial lainnya.

Bagi mereka yang kaya, berpenghasilan lebih, tentu bukanlah masalah untuk memenuhi tuntutan nafsu makan mereka. Sementara bagi mereka yang miskin, hidup serba pas-pasan, tentu semua itu akan menjadi isapan jempol semata. Tayangan kuliner hanya membuat mereka gigit jari, menelan ludah. Atau bahkan membuat kemiskinan mereka terasa lebih menyedihkan.

Inilah yang kemudian disebut oleh Baudrillard sebagai masyarakat massa. Dalam masyarakat massa, media menciptakan ledakan makna yang luar biasa hingga mengalahkan realitas nyata.

Televisi memiliki kemampuan manipulatif untuk membius, membohongi, dan melarikan masyarakat pemirsanya dari kenyataan-kenyataan kehidupan sekelilingnya. Apalagi ketika dunia pertelevisian di Indonesia dibangun dan ditumbuhkan melalui orientasi laba-rugi, tanpa regulasi yang jelas, serta tanpa lembaga kontrol yang memadai. (Wirodono, 2006: ix)

***

Makanan akan selalu menjadi barang yang langka ketika dihadapkan dengan sistem-sistem ekonomi dan politik yang lebih luas. Dalam konteks ini, pangan yang secara kasat mata hanyalah sebuah materi, melalui pemaknaan ekonomis, tertransfomasikan menjadi komoditas. Sehingga seorang atau kelompok akan mencari keuntungan atasnya. (Khudori, 2005: vii)

Tak heran jika para kapitalis dan pemilik modal berebut menguasai industri ini. Berbagai restoran fast food dengan logika cepat saji ala gaya hidup modern sampai warung makan tradisional khas daerah tumbuh subur seraya membentuk pola makan masyarakat. Sayangnya, pembentukan pola makan tersebut semata-mata didasari oleh hukum mekanisme pasar.

Melalui logika pasar beragam komoditas dihadirkan. Karena begitu melimpah, masyarakat pun tak diberi kesempatan untuk memilih. Dalam kondisi ini sebenarnya tak ada lagi pilihan yang benar-benar muncul dari diri kita. Pasarlah yang menentukan pilihan kebutuhan konsumsi kita sehari-hari.

Pada akhirnya, televisi hanya akan menjadi kabar buruk bagi masyarakat kita. Karena kecenderungan tayangan yang ada hanya menuntun pemirsanya untuk mengkonsumsi. Tanpa mempertimbangkan kondisi objektif masyarakatnya. []

Minggu, 08 Juni 2008

Tanpa Huruf "L"

Libur sekolah telah tiba. Teriakan-teriakan lantang bocah-bocah kembali terdengar di rumah. Agak terganggu sebenarnya aku melihat tingkah polah mereka. Maklum, setiap hari rumahku biasa dengan sepi. Tapi, ya sudahlah... sebagai tuan rumah aku harus tetap menghormati dan menerima mereka. Apalagi mereka adalah keponakan-keponakanku sendiri. Paman macam apa jika aku memarahi atau bahkan mengusir mereka. Hahaha....
Aku punya 11 keponakan dari 4 kakakku yang sudah berkeluarga. Jadi, bisa dibayangkan betapa 'kacau'-nya rumahku saat mereka berkumpul. Bagian yang membahagiakan bagiku adalah ketika mereka akur bermain bersama, berbagi mainan, dan... pokoknya yang tidak memicu tangis deh. Di luar itu, aku, mungkin juga keluargaku yang lain, akan dibuat kesal dan marah. Misal, ketika mereka berebut mainan, berantem, dan akhirnya menangis karena tidak mau mengalah satu sama lain. Yang lebih parah lagi, kalau ada satu dari mereka yang menangis tanpa alasan yang jelas, atau meminta sesuatu yang aneh-aneh gitu. Dasar anak-anak, pusing deh...

Di sisi lain, ternyata ada juga hal-hal yang membuat aku tertawa dengan kelakuan anak-anak itu. Seperti cerita yang satu ini...

Suatu hari, sekitar 5 keponakanku bermain kejar-kejaran. Di rumah yang tidak begitu luas mereka berlarian keluar masuk rumah. Entah apa yang mereka ributkan sehingga salah satu dari mereka harus diuber. Belakangan aku tahu kalau mereka sedang bermain polisi-polisian. Nah, bocah yang dikejar itu berperan sebagai maling yang telah mencuri sesuatu.

Beberapa menit si polisi (diperankan oleh Ismail) dan si maling (diperankan oleh Zidni) hanya berlari berkejaran tak karuan. Si maling terus berlari secepat mungkin, meliuk di antara pintu-pintu rumah, menyusup ruang tamu, teras, hingga dapur untuk menghindar agar tidak tertangkap. Pun halnya dengan si polisi, ia tampak hanya mengikuti, bukan mengejar untuk menangkap si maling. Sementara 3 keponakanku yang lain pura-pura berperan sebagai 1 korban dan 2 lainnya pura-pura berperan sebagai masyarakat yang sedang menenangkan si korban.

Si polisi mulai kewalahan dan kelelahan mengejar si maling. Dia berhenti di dekat korban yang masih (pura-pura) menangis. Sedangkan si maling masih tetap berlari meski tak lagi dikejar polisi. Keponakanku yang (pura-pura) jadi maling ini memang terkenal gesit dan lincah. Seraya mempecundangi polisi, si maling terus berlari. Saat melintas di depan si polisi, si maling sesekali menggoda menjulurkan lidahnya sambil terus berlari.

Lama kelamaan, si polisi berang. Ia mulai terlihat akan kembali mengejar si maling. Namun, kini ia tidak tinggal diam. Tak ada sirine, mulut pun jadi. Sambil berlari mengejar, si polisi berteriak-teriak. "MANING...MANING...MANIIINGG...." teriak si polisi. Sementara si maling tetap berlari menghindar. Si polisi kembali berteriak, "MANING...MANIIIINNGG....". Teriakannya kali ini menghentikan lari si maling. Ia terheran-heran, termasuk aku juga. Sebenarnya apa maksud teriakkannya itu.

Tapi, kemudian aku langsung tertawa terpingkal-pingkal. Aku baru ngeh, keponakanku yang jadi polisi itu akan mengucapkan "N" untuk huruf "L". Jadi, maksudnya ia berteriak MALING, karena ia tidak bisa maka jadilah MANING. Hahaha.... ada-ada saja. Permainan pun usai.

Ini mungkin juga terjadi pada keponakan dan anak-anak yang lain atau bahkan anda sendiri. Kalau mengingat keponakanku si polisi itu, aku jadi suka tertawa sendiri. Hehe... Coba saja perhatikan, semua huruf "L" yang ada pada susunan kata akan menjadi "N".

"Umi, aku mau beni Sene One" (maksudnya; Umi, aku mau beli Sle Olee [biskuit favoritnya])
"Mas Dina nagi sekonah" (maksudnya; mas Dila lagi sekolah [mas Dila ini kakaknya])

Dan, banyak deh... silahkan dicoba melafalkan kata-kata ala Ismain, eh Ismail ding... []