Kamis, 12 Juni 2008

Televisi dan Eksploitasi Nafsu Makan


Makan dan minum merupakan kebutuhan paling primitif umat manusia. Kemudian kita menyebut kebutuhan ini sebagai kebutuhan pokok. Sebuah kebutuhan untuk mempertahankan eksistensi kehidupan manusia di bumi ini selain kebutuhan akan sandang dan papan.

Salah satu yang menarik dari pembicaraan tentang kebutuhan pangan adalah adanya pergulatan manusia dalam mengatasi lapar dan hausnya dari masa ke masa. Dimana untuk pemenuhan kebutuhan ini saja umat manusia telah mengalami perjalanan evolusi yang cukup panjang.

Mulai dari cara hidup nomaden yang cukup dengan makan dedaunan seadanya. Kemudian beralih pada pola hidup berkelompok dengan berburu dan meramu (food gathering). Dan sampai pada kehidupan kita sekarang yang banyak menciptakan kemudahan dan bermacam jenis makanan.

Abraham Malinowski, seoarang antropolog, menjelaskan fenomena ini melalui teori evolusi kebutuhan. Menurut Malinowski, kebutuhan manusia yang semakin kompleks sejatinya merupakan derivasi dari berbagai kebutuhan dasar. Kebutuhan manusia akan terus berkembang dari bentuknya yang sederhana hingga yang paling canggih.

***

Di negeri ini, setidaknya dalam beberapa tahun terakhir, aktifitas makan dan juga minum cukup mendapat perhatian yang cukup serius. Hampir seluruh stasiun televisi beramai-ramai menayangkan program acara bertema kuliner. Inilah konsekuensi dari sikap pengelola stasiun televisi yang lebih mementingkan rating dibanding pertimbangan lainnya.

Rating adalah sistem yang digunakan untuk mengukur banyaknya penonton tayangan, yang paling tidak minimum satu menit atau bahkan 17 detik. Sistem ini melulu berurusan dengan kuantitas dan sama sekali tidak memperhitungkan kualitas suatu tayangan. Padahal, sistem rating dalam sejarahnya ditumbuhkan dalam perspektif memenuhi kewajiban perlindungan terhadap masyarakat. (Sunardian Wirodono, 2006: 91)

Melalui tayangan-tayangan bertema kuliner, aktifitas makan dan minum digambarkan serta diarahkan pada sesuatu yang tidak lagi sekedar sebagai ritual untuk mengatasi lapar dan haus. Di sini kegiatan makan dan minum mulai diboncengi dengan makna-makna simbolik tertentu dan dengan cara-cara tertentu pula. Simak saja apa yang dilakukan Bondan Winarno setiap kali usai menyantap berbagai hidangannya, “Mak Nyoos!”, atau kata “Ajiiib!” yang diucapkan Fauzi Badila.

Itulah sebetulnya hakikat dari proses penciptaan budaya konsumerisme. Budaya konsumerisme adalah budaya konsumsi yang ditopang oleh proses penciptaan ‘diferensi’ secara terus menerus lewat penggunaan ‘citra’, tanda, dan makna simbolik dalam proses konsumsi. Ia juga budaya belanja yang proses perubahan dan perkembangannya didorong oleh logika ‘hasrat’ dan ‘keinginan’, ketimbang logika kebutuhan. (Yasraf A. Piliang, 2004: 296)

Berbagai jenis masakan ‘dihidangkan’ dan ‘diantar’ langsung ke rumah-rumah melalui tayangan ini. Mulai dari yang tradisional di pelosok-pelosok nusantara sampai masakan internasional di restoran-restoran terkenal. Itu semua diciptakan sebagai cara untuk mengeksploitasi dorongan-dorongan hasrat para pemirsanya. Maka jangan heran jika di satu kesempatan anda akan ngiler menonton tayangan seperti ini.

Jika tren tayangan jenis ini berlangsung lama, maka entah apa jadinya bangsa ini. Setiap hari masyarakat akan dijejali dengan berupa-rupa makanan sehingga yang mereka pikirkan hanya berkutat pada urusan perut. Pagi ini sarapan apa? Nanti siang makan di mana? Nanti malam makan dengan siapa? Dan setumpuk daftar perburuan makanan lainnya.

Beberapa pertanyaan di atas kemudian dengan sendirinya akan menjadi sebuah paradoks di masyarakat kita. Terlebih ketika pemerintah tak juga mampu mengatasi kemiskinan, pengangguran, dan masalah sosial lainnya.

Bagi mereka yang kaya, berpenghasilan lebih, tentu bukanlah masalah untuk memenuhi tuntutan nafsu makan mereka. Sementara bagi mereka yang miskin, hidup serba pas-pasan, tentu semua itu akan menjadi isapan jempol semata. Tayangan kuliner hanya membuat mereka gigit jari, menelan ludah. Atau bahkan membuat kemiskinan mereka terasa lebih menyedihkan.

Inilah yang kemudian disebut oleh Baudrillard sebagai masyarakat massa. Dalam masyarakat massa, media menciptakan ledakan makna yang luar biasa hingga mengalahkan realitas nyata.

Televisi memiliki kemampuan manipulatif untuk membius, membohongi, dan melarikan masyarakat pemirsanya dari kenyataan-kenyataan kehidupan sekelilingnya. Apalagi ketika dunia pertelevisian di Indonesia dibangun dan ditumbuhkan melalui orientasi laba-rugi, tanpa regulasi yang jelas, serta tanpa lembaga kontrol yang memadai. (Wirodono, 2006: ix)

***

Makanan akan selalu menjadi barang yang langka ketika dihadapkan dengan sistem-sistem ekonomi dan politik yang lebih luas. Dalam konteks ini, pangan yang secara kasat mata hanyalah sebuah materi, melalui pemaknaan ekonomis, tertransfomasikan menjadi komoditas. Sehingga seorang atau kelompok akan mencari keuntungan atasnya. (Khudori, 2005: vii)

Tak heran jika para kapitalis dan pemilik modal berebut menguasai industri ini. Berbagai restoran fast food dengan logika cepat saji ala gaya hidup modern sampai warung makan tradisional khas daerah tumbuh subur seraya membentuk pola makan masyarakat. Sayangnya, pembentukan pola makan tersebut semata-mata didasari oleh hukum mekanisme pasar.

Melalui logika pasar beragam komoditas dihadirkan. Karena begitu melimpah, masyarakat pun tak diberi kesempatan untuk memilih. Dalam kondisi ini sebenarnya tak ada lagi pilihan yang benar-benar muncul dari diri kita. Pasarlah yang menentukan pilihan kebutuhan konsumsi kita sehari-hari.

Pada akhirnya, televisi hanya akan menjadi kabar buruk bagi masyarakat kita. Karena kecenderungan tayangan yang ada hanya menuntun pemirsanya untuk mengkonsumsi. Tanpa mempertimbangkan kondisi objektif masyarakatnya. []

Tidak ada komentar: