Senin, 23 Juni 2008

Panggilan Tak Terjawab

Sebuah cerita pendek, dan mungkin mengada-ada, ini khusus buat yang sibuk di tengah malam hingga pagi hari untuk telepon berlama-lama. Ya, semacam perayaan tarif telepon yang murah. Selamat membaca....


Jam sembilan malam. Wardoyo masih terjaga di dalam kamarnya. Di atas kasur tanpa dipan setengah tubuhnya ia sandarkan ke tembok sambil menghadapi layar televisi. Sesekali tangan kanannya yang memegangi remote ia acung-acungkan ke arah TV.

Malam itu tak ada satu pun acara TV yang bisa membuat Wardoyo melepaskan remote dan berhenti memencet-mencet tombolnya. Terang saja, sampai beberapa lama ia terus sibuk menggonta-ganti channel.

Wardoyo sedang menunggu sesuatu hingga tengah malam nanti. Empat Mata ? Bukan ! Fenomena ? Bukan ! Liga Champions; Chealse vs Liverpool ? Bukan juga ! Apa dong ?. Niatannya menonton TV hanya untuk menemaninya agar tetap terjaga. Pokoknya malam ini ia tak boleh terlelap dan tidur !

Sebab, tadi siang Wardoyo kena damprat pacar barunya, Prastiwi. Kemarin malam ia absen menelpon pujaan hatinya yang anak semester dua itu. “Maaf, neng. Tadi malem aku ketiduran,” bujuk Wardoyo ketika mereka berdua bertemu di Perpustakaan. “Ketiduran? alasan aja,” bantah Prastiwi sambil cemberut. “Kalo gitu Neng sumpahin, nanti malem kamu ketiduran (tertimpa) lemari yang gede. Biar nggak bisa bangun sekalian !” lanjutnya dengan nada sewot plus ngambek. “Jangan gitu dong. Kok jahat banget sih ama pacar sendiri,” sergah Wardoyo sambil terus merayu.

Pertemuan itu kemudian berakhir dengan kesepakatan; Wardoyo akan dan harus menelpon Prastiwi tiap malam. Awalnya Wardoyo kurang setuju dengan kesepakatan ini. “Kalo malem nelpon ke sesama ***** kan murah,” ujar Prastiwi. Belum sempat Wardoyo menanggapi, sang cewek melanjutkan penjelasan paket hemat telpon di malam hari. Lengkap dengan hitungannya dari jam, menit, sampai detik. Persis sekali seperti iklan yang ada di TV dan koran-koran. Dan Wardoyo pun hanya bisa mengangguk mendengarnya.

Kini, hampir satu jam Wardoyo masih memainkan remote TV-nya. Namun kali ini kantuk mulai menggerayanginya. Dua matanya sayup memandangi layar kaca di depannya. Wardoyo meraih ponselnya yang sejak tadi ia biarkan tergeletak di sampingnya. Baru jam sepuluh kurang tujuh menit. Artinya, ia masih harus menunggu setidaknya satu jam lagi untuk bisa telpon Prastiwi dengan tarif yang murah.

Wardoyo mulai gusar. Di tengah kantuk yang menyerangnya ia masih sempat membayangkan betapa marahnya Prastiwi jika ia tertidur dan tidak menelponnya lagi malam ini. “Awas ! kalo nanti malem nggak nelpon, kita putus !” begitu ancam sang pacar tadi siang. Wardoyo mencoba melawan kantuk.

Sepertinya Wardoyo sudah mulai payah menahan rasa kantuknya. Sesekali ia menguap panjang dan membiarkan mulutnya terbuka lebar-lebar. Jika sudah menguap macam ini, yang paling enak adalah melanjutkannya dengan memejamkan mata dan tidur. Tidak boleh ! Wardoyo terperanjat. Dengan penuh beban ia mencoba membelalakkan kedua matanya memandangi TV yang masih menyala. Usahanya itu hanya mampu bertahan beberapa menit saja. Setelah itu ia terlelap lagi, terjaga lagi, terlelap lagi, terjaga lagi, dan…..
***

Ponsel Wardoyo berdering, satu pesan singkat diterima. “Pasti dari Prastiwi,” tebaknya. Namun ia salah, ia mendapati pesan dengan nomer pengirim yang aneh, 000-000-0000. “Secantik-cantiknya nomer, ga ada deh yang kayak gini,” katanya dalam hati. “Provider baru apa ya ?” tanya Wardoyo masih dalam hati. Ia kemudian membaca isi pesannya yang tak kalah aneh.

Sbgian org brgmbra mnymbut mlm, krn mrk akn brmesraan dgn Tuhan. Kala mthri trbit, mrk brsdih krn ursn dunia bgtu mnyibukkn.

Kening Wardoyo mengernyit. Ia merasa heran dengan isi pesan yang ia terima tersebut. Namun ia tak mau ambil pusing. Jempolnya hampir saja menekan options – delete, namun ia urungkan niatnya itu. Ia kemudian meletakkan kembali ponselnya. Tapi tak lama berselang, tititit tiiit…tit tititit – tititit tiiit…tit tititit. Wardoyo langsung menyambar ponsel didekatnya. 1 message received, buru-buru ia membukanya, berharap itu pesan dari pacarnya. Hah… ! Wardoyo terperanjat, pesan dari nomer aneh lagi ?!

Tiga hal yg mninggikn drjt adlh mmbri mkn org lain, mnybrkn slm kdmaian, dan shalat mlm ktka org lain sdg tdr.

Kini Wardoyo terpaksa mau ambil pusing dengan pesan-pesan yang baru saja ia baca. Tangannya masih menggenggam ponsel, Wardoyo seperti sedang berpikir. Lalu, jempolnya mulai bergerak menapaki tombol, options – reply. Ia mengetik sebuah pesan balasan, singkat saja. Sapa neh ? kemudian send. Wardoyo menunggu, namun hanya beberapa detik layar ponselnya bertuliskan, message failed. Wardoyo mencoba lagi, tapi gagal lagi, coba lagi, tetap gagal. Huh ! ia mulai kesal. Tiba-tiba sebuah pesan kembali masuk ke ponselnya.

Imam Syafi’i mmbagi mlm mnjdi 3 bagian : utk mnulis, utk shalat, dan utk tdr. Dia slalu mntpi pmbgian ni scra konsisten.

Begitu isi pesan yang baru saja dibaca Wardoyo. “Ini bukan pesan sembarangan,” ucapnya mencoba menangkap makna. “Tapi siapa pengirim pesan mulia tapi aneh ini ? malaikat ?” ujar Wardoyo pusing. “Masa sih malaikat bisa sms-an.” Kini Wardoyo mulai sibuk dengan pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Sementara itu message alert tone berbunyi kembali dari ponselnya.

Wardoyo, jgnlah ayam jntn lbh crds drpd dirimu. Ia brko2k di akhir mlm. Smntra kmu msih trtdr pls.

“Gila, ni makhluk kok bisa tau namaku segala,” Wardoyo semakin kesal. Sempat terlintas di benaknya untuk mematikan ponselnya. Tapi itu tak bisa mengalahkan rasa penasarannya. Setelah membalas sms gagal, kini ia mencoba menghubunginya. Ia mengetik nomer aneh itu, 000-000-0000 kemudian call.

Harap-harap cemas Wardoyo melakukan penyelidikannya. Sampai beberapa saat, panggilannya tidak juga tersambung. Wardoyo mengulanginya lagi. Kini ia mulai mendengar suara dari seberang. Namun bunyinya tak seperti sambungan telepon pada umumnya, hanya suara desir angin yang lembut. Suara dari seberang itu kemudian menghilang.

Wardoyo mencoba menghubunginya lagi. Dari ponselnya, ia kembali mendengar suara desir angin. Dan kali ini dibarengi dengan suara yang lamat-lamat membaca sebuah ayat al Quran. Wardoyo merapatkan ponselnya lebih dekat ke telinga kanannya. Suara di seberang mulai terdengar jelas. Wa minal laili fatahajjad bihii naafilatan laka, ‘asaa an yab’atsaka maqaaman mahmudaa. Wardoyo tercengang, mulutnya seperti terkunci rapat dan tak bisa mengucap sepatah kata pun.

Seiring menghilangnya suara itu, Wardoyo mulai merasakan hembusan angin di seberang benar-benar keluar dari dalam ponselnya dan masuk ke dalam telinganya. Wardoyo panik dan berusaha menjauhkan ponsel dari telinganya namun tak bisa. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh Wardoyo. Ia terus berusaha melepaskan ponsel yang semakin menempel di telinganya dan terus menghembuskan angin kencang. Wardoyo berteriak seraya melepaskan ponsel dari telinganya dan itu berhasil kemudian melempar ponselnya ke pojok kamar. Aaaaaaaaahhhhhh….!!!

***

Wardoyo terjaga dari tidurnya. Nafasnya tersengal dan dua matanya terbelalak memandangi seisi kamarnya. Tak lama pandangannya terhenti, ia mendapati ponselnya masih utuh. “Huuhh…. untung cuma mimpi,” ujarnya lega sambil memungut ponsel yang tergeletak tak jauh darinya. Pada saat itu juga ia melihat pesan panggilan tak terjawab di ponselnya, 1 missed call.
Wardoyo enggan membuka daftar panggilan tak terjawab di ponselnya. Ia termenung, seperti sedang merangkai ingatan tentang mimpinya barusan. Tangannya masih menggenggam ponsel. Namun si ibu jari belum bergerak, masih terdiam. Ia khawatir nomer aneh dalam mimpinya benar-benar menghubunginya.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Wardoyo. Ini membuatnya makin terdiam. Ingatannya kini benar-benar tertuju pada peristiwa yang terjadi dalam mimpinya. Wardoyo butuh beberapa saat untuk mengumpulkan kekuatan untuk membuka SMS itu. Kemudian, “Bismillah….” ia merapal do’a dan membukanya. Ternyata SMS dari Prastiwi, isinya “KITA PUTUS…!”. Hah…! Wardoyo baru tersadar, ia lupa menelepon Prastiwi tadi malam. []

4 komentar:

Vina Revi mengatakan...

ehk, kenapa namanya Wardoyo, ya? Padahal mungkin kalo diganti Jono ato Parjo jadi lebih pas dengan Prastiwi. *timpuk Vina pake sandal jepit!*

Fahmi FR mengatakan...

FYI, nama Wardoyo terinspirasi dari nama Dian Sastrowardoyo, soale saya ngefans ma dia, hehehe... Klo Prastiwi, itu nama Wartel di deket kosan tmn.

Vina Revi mengatakan...

Ooh, big fans-nya Distro, ternyata! Emang cantik banget tuh anak, Mi. Setuju ama pilihannya. :)

Fahmi FR mengatakan...

Ya, begitulah bu dokter, mdh2an nanti saya dpt istri yg mirip dia, atau sekalian aja Distro jadi istri saya... mungkinkah? hehehe...