Minggu, 08 Juni 2008

Tanpa Huruf "L"

Libur sekolah telah tiba. Teriakan-teriakan lantang bocah-bocah kembali terdengar di rumah. Agak terganggu sebenarnya aku melihat tingkah polah mereka. Maklum, setiap hari rumahku biasa dengan sepi. Tapi, ya sudahlah... sebagai tuan rumah aku harus tetap menghormati dan menerima mereka. Apalagi mereka adalah keponakan-keponakanku sendiri. Paman macam apa jika aku memarahi atau bahkan mengusir mereka. Hahaha....
Aku punya 11 keponakan dari 4 kakakku yang sudah berkeluarga. Jadi, bisa dibayangkan betapa 'kacau'-nya rumahku saat mereka berkumpul. Bagian yang membahagiakan bagiku adalah ketika mereka akur bermain bersama, berbagi mainan, dan... pokoknya yang tidak memicu tangis deh. Di luar itu, aku, mungkin juga keluargaku yang lain, akan dibuat kesal dan marah. Misal, ketika mereka berebut mainan, berantem, dan akhirnya menangis karena tidak mau mengalah satu sama lain. Yang lebih parah lagi, kalau ada satu dari mereka yang menangis tanpa alasan yang jelas, atau meminta sesuatu yang aneh-aneh gitu. Dasar anak-anak, pusing deh...

Di sisi lain, ternyata ada juga hal-hal yang membuat aku tertawa dengan kelakuan anak-anak itu. Seperti cerita yang satu ini...

Suatu hari, sekitar 5 keponakanku bermain kejar-kejaran. Di rumah yang tidak begitu luas mereka berlarian keluar masuk rumah. Entah apa yang mereka ributkan sehingga salah satu dari mereka harus diuber. Belakangan aku tahu kalau mereka sedang bermain polisi-polisian. Nah, bocah yang dikejar itu berperan sebagai maling yang telah mencuri sesuatu.

Beberapa menit si polisi (diperankan oleh Ismail) dan si maling (diperankan oleh Zidni) hanya berlari berkejaran tak karuan. Si maling terus berlari secepat mungkin, meliuk di antara pintu-pintu rumah, menyusup ruang tamu, teras, hingga dapur untuk menghindar agar tidak tertangkap. Pun halnya dengan si polisi, ia tampak hanya mengikuti, bukan mengejar untuk menangkap si maling. Sementara 3 keponakanku yang lain pura-pura berperan sebagai 1 korban dan 2 lainnya pura-pura berperan sebagai masyarakat yang sedang menenangkan si korban.

Si polisi mulai kewalahan dan kelelahan mengejar si maling. Dia berhenti di dekat korban yang masih (pura-pura) menangis. Sedangkan si maling masih tetap berlari meski tak lagi dikejar polisi. Keponakanku yang (pura-pura) jadi maling ini memang terkenal gesit dan lincah. Seraya mempecundangi polisi, si maling terus berlari. Saat melintas di depan si polisi, si maling sesekali menggoda menjulurkan lidahnya sambil terus berlari.

Lama kelamaan, si polisi berang. Ia mulai terlihat akan kembali mengejar si maling. Namun, kini ia tidak tinggal diam. Tak ada sirine, mulut pun jadi. Sambil berlari mengejar, si polisi berteriak-teriak. "MANING...MANING...MANIIINGG...." teriak si polisi. Sementara si maling tetap berlari menghindar. Si polisi kembali berteriak, "MANING...MANIIIINNGG....". Teriakannya kali ini menghentikan lari si maling. Ia terheran-heran, termasuk aku juga. Sebenarnya apa maksud teriakkannya itu.

Tapi, kemudian aku langsung tertawa terpingkal-pingkal. Aku baru ngeh, keponakanku yang jadi polisi itu akan mengucapkan "N" untuk huruf "L". Jadi, maksudnya ia berteriak MALING, karena ia tidak bisa maka jadilah MANING. Hahaha.... ada-ada saja. Permainan pun usai.

Ini mungkin juga terjadi pada keponakan dan anak-anak yang lain atau bahkan anda sendiri. Kalau mengingat keponakanku si polisi itu, aku jadi suka tertawa sendiri. Hehe... Coba saja perhatikan, semua huruf "L" yang ada pada susunan kata akan menjadi "N".

"Umi, aku mau beni Sene One" (maksudnya; Umi, aku mau beli Sle Olee [biskuit favoritnya])
"Mas Dina nagi sekonah" (maksudnya; mas Dila lagi sekolah [mas Dila ini kakaknya])

Dan, banyak deh... silahkan dicoba melafalkan kata-kata ala Ismain, eh Ismail ding... []


2 komentar:

Vina Revi mengatakan...

Nggak bina berkomentar banyak. Lagi nakit gigi. Moga-moga nelasa depan udah nembuh.

Fahmi FR mengatakan...

nagi sakit gigi ya, bu? sama dong... tq