Jumat, 22 Agustus 2008
Mabok ’Bella Luna’
May I suggest you get the best
Of your wish may I insist
That no contest for little you or smaller I
A larger chance yet, but all them may lie
On the rise, on the brink of our lives
(Bella Luna – Jazon Mraz)
Hampir selama sepekan ini aku mabok. Bukan mabok minuman beralkohol, Pak Kyai bilang itu haram – jadi, mending minum es cendol aja jeh. Dan bukan juga mabok cinta, kebanyakan cinta lebih sering membunuhku.
Aku mabok ’Bella Luna’. Emang ada...? Hehehe... itu hanya istilahku sendiri saja. Karena mungkin hanya aku yang mengalaminya. Ada yang tahu albumnya Jazon Mraz yang MR. A-Z (2005) ? Sebuah album yang sudah tidak cocok menyandang kata baru. Dan mungkin sudah masuk daftar koleksi di gudang. Tapi itu tidak berlaku bagiku. Aku baru tahu dan mendengar lagu-lagunya seminggu kemarin. Bahkan aku menemukan lagu berjudul Remedy yang sebelumnya sudah sering aku dengar ternyata itu yang nyanyi Jazon Mraz. Ketinggalan jaman banget yak! Buat yang belum pernah atau pengen dengerin lagunya bisa klik di http://www.youtube.com/watch?v=TsuBkmzItZ8&feature=related
Nah, dalam album tersebut aku menemukan lagu berjudul ’Bella Luna”. Pertama kali dengar lagunya aku langsung suka. Dua kali putar, ternyata belum cukup. Akhirnya aku putar ulang terus. Playlist winamp yang biasanya penuh berjejal aneka lagu kini menyisakan ’Bella Luna’ yang berdurasi 5 menit 2 detik itu.
Entahlah, kenapa perhatianku tertuju pada ’Bella Luna’. Apakah aku paham dengan makna lirik lagunya? Sepertinya tidak. Aku masih gagap bahkan gugup kalau harus baca, tulis, dan mendengar bahasa Inggris. Atau karena petikan gitar dan lantunan vocal yang mendayu-dayu? Waduh, entahlah pokonya aku mabok!
Jangan-jangan aku sedang mengalami apa yang disebut Theodore Adorno sebagai Pseudo-individualisasi. Sebuah standarisasi hit-hit lagu yang menjaga para penikmat musik tetap menerimanya dengan tetap mendengarkannya. Membuat para penikmat musik lupa bahwa apa yang mereka dengarkan itu telah diperdengarkan bahkan ’disederhanakan sebelumnya’.
Adorno pernah melakukan analisis sistematis tentang kajian budaya massa. Melalui On Popular Music (1941), ia membuat tiga pernyataan spesifik perihal musik pop. Pertama, musik pop itu distandarisasikan. Sekali pola musikal dan atau lirikal ternyata sukses, ia akan dieksploitasi hingga kelelahan komersial, yang memuncak pada ’kristalisasi standar’. Untuk menyembunyikan ’standarisasi’, maka industri musik menggunakan pseudo-individualisasi sebagaimana dijelaskan di atas.
Kedua, musik pop mendorong pendengaran pasif. Karenanya banyak dorongan untuk mencari jalan keluar. Namun, industri musik di bawah kendali kapitalisme telah menumpulkan dan hanya meninggalkan sedikit energi untuk menemukan jalan keluar yang sebenarnya. Konsumsi musik pop itu senantiasa pasif dan repetitif.
Kemudian yang ketiga adalah klaim bahwa musik pop beroperasi seperti ’semen sosial’. Fungsi sosial-psikologisnya adalah meraih penyesuaian fisik dengan mekanisme khidupan saat ini dalam diri konsumen musik pop. Penyesuaian ini memanifestasikan dirinya dalam dua tipe sosial-psikologis utama perilaku massa. Yakni tipe penurut ’ritmis’ dan tipe ’emosional’. Tipe ritmis menari-nari dalam pemalingan perhatian pada ritme eksploitasinya sendiri. Dan tipe emosional berkubang dalam kesengsaraan yang sentimentil, lupa kondisi eksistensi nyata.
Musik pop telah menjadi bagian yang tak terelakkan dalam kehidupan kita. Musik pop secara lebih ekstrem telah menyerbu kita. Serbuan yang membuat kita tersungkur di sangkur budaya massa. Lihat saja, barisan artis siap dan sudah mulai ikut-ikutan menyanyi. Ribuan grup band pendatang baru menunggu giliran untuk dijejalkan dalam kubangan budaya pop. ’Mabok’ mungkin termasuk dalam akibat dari serangan dan serbuan tersebut. []
Selasa, 12 Agustus 2008
Buddy Award
Vina Revi -- http://vina-pages.blogspot.com/
Masciput -- http://masciput.blogspot.com/
Nirmana -- http://mynirmana.blogspot.com/
Lia -- http://amaliasolicha.wordpress.com/
Ainur Rohman -- http://ainurohman.blogspot.com/
Donlenon -- http://donlenon.blogspot.com/
Wirati -- http://rathikumara.blogspot.com/
Selamat dan tetap semangat untuk ngeblog, posting cerita2 menarik, ninggalin komen yang lucu2, dan semakin banyak teman. Thanks []
Minggu, 10 Agustus 2008
Bagaimana Seharusnya Tertawa?
Pertanyaan dan pernyataan seperti itu sudah sering aku dengar dari teman-teman bahkan keluargaku. "Mi, kamu tertawa kok merem. Ada-ada aja," kata temanku lagi di lain kesempatan. Aku menanggapi itu semua sebagai bentuk perhatian teman-teman kepadaku. Sampai bagaimana aku tertawa saja mereka tahu. Padahal aku sendiri tidak pernah memperhatikan bagaimana mereka tertawa. Atau, jangan-jangan caraku tertawa sambil merem adalah sebuah kelainan, tidak umum terjadi sehingga terlihat mencolok di mata mereka? Entahlah, yang pasti itu masih mendingan daripada mereka berkomentar tentang gigiku yang kuning atau bahkan bau mulut yang terbuka lebar saat tertawa. Hehehe...
Meski kedua jari-jari tangan bergaya ala rocker, aku bukan sedang berteriak bernyanyi, aku sedang tertawa melihat Wandi yang berpose sambil ngupil.
Lalu, bagaimana seharusnya tertawa?
Menurutku, setiap orang punya kebiasaan dan mungkin ciri khas tersendiri ketika tertawa. Hal ini bisa dilihat dari gerak tubuh, raut muka, suara, hingga lamanya waktu tertawa. Ya, tertawa adalah laku manusiawi yang ternyata harus kita syukuri sebagai karunia Tuhan kepada makhluk yang bernama manusia. Dan segala yang Tuhan berikan sudah pasti bermanfaat bagi yang menerimanya. Coba bayangkan, seandainya manusia di bumi ini tidak dikarunia sebuah nikmat tertawa.
Tertawa itu pekerjaan yang paling mudah. Asal ada pemicu tentunya raut muka yang tadinya tegang berubah riang gembira. Secara medis/psikologis tertawa juga mempunyai efek positif pada mental seseorang. Dan katanya, orang yang mudah tertawa lebih cepat sembuh dari penyakit ketimbang orang yang lebih banyak mengeluh apalagi menangis. Tidak heran jika sudah banyak terapi penyembuhan atau relaksasi dengan cara tertawa. Tentu saja tertawa biasa berbeda dengan tertawa yang ditujukan untuk penyembuhan.
Tertawa dapat merangsang pengeluaran endorphin, serotin ditambah melatonin yang merupakan zat kimia positif. Release dari zat tersebut menyebabkan perasaan tenang dan tenteram. Sebaliknya, tertawa mengurangi pengeluaran adrenalin, kortisol dan radikal bebas yang disebut zat kimia jahat. Selain itu dapat juga menurunkan tekanan darah dan detak jantung, mengurangi kadar kolesterol jahat. Sistem immune juga dirangsang dengan tertawa, yaitu salah satunya melalui sel antikanker yang akan memakan sel kanker dalam tubuh.
Selain bermanfaat bagi kesehatan, tertawa juga punya nilai ekonomi/bisnis yang tinggi. Terbukti dengan banyaknya dunia pertunjukkan yang mengeksplorasi. belakangan mungkin lebih cocok disebut eksploitasi, respon/sensor tawa penonton. Lihat saja berapa banyak acara lawak yang ada di TV. Salah satu stasiun TV pun pernah rutin menggelar audisi pelaku dunia lawak Indonesia.
Bahkan, eksploitasi tawa penonton/pemirsa tidak lagi menjadi monopoli program tayangan lawak. Lihat saja berapa banyak variety show/talk show di TV yang booming karena aksi kocak pembawa acaranya. Misal, Empat Mata dengan Tukul Arwana dan kawan-kawannya. Semakin katro, lucu, dan gila aksi Tukul dkk, semakin banyaklah orang yang menonton. Betapa tertawa telah dapat memakmurkan kehidupan Tukul bersama anak dan istrinya si Tuti Similikiti Weleh-weleh itu. Hehehe... Tertawalah, sebelum tertawa itu dilarang. Kira-kira begitu kalimat yang kita baca di akhir film-film Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro) yang legendaris itu.
Namun, bagaimana seharusnya kita tertawa di tengah kondisi bangsa yang macam ini? Kesenjangan ekonomi yang belum juga beranjak dalam kehidupan rakyat dari negeri yang katanya kaya akan sumber daya alamnya ini? Sementara para pejabat dan wakil rakyat bekerja layaknya panitia penghancuran negara yang bernama Indonesia! *DEMONSTRAN mode on*
Aku curiga, jangan-jangan negara ini, INDONESIA, hanyalah sebuah dagelan. Dimana rakyatnya dicekoki dengan berbagai tayangan dangkal yang mengumbar tawa. Sehingga ketika ada pejabat atau wakil rakyat yang ketahuan korupsi, main perempuan, mengkonsumsi narkoba, dan laku bejat lainnya, rakyat tidak perlu pusing. Anggap saja itu sebagai lelucon dan GRRRRRRR......!! Kita cuma bisa tertawa dan bilang, "Hehe... kesadap niye telponnya. Malu tuh..." dan kemudian kembali lagi ke laptop!
Hmmm... sebentar, perasaan tadi aku cerita tentang aku yang tertawa sambil merem kan? Kenapa jadi sibuk ngurusin negara neh?! Oooo.... tadi aku tertawa, merem, kemudian.... waduh, aku kerasukan roh para pejuang Republik ini, mulai dari Jendral Soedirman, Bung Tomo, Tan Malaka, Bung Karno, Bung Hatta, M. Natsir, de-el-el. Hehehe... maklum, mau 17-an neh.
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA !
Jumat, 08 Agustus 2008
Symbol of Love
***
Aku lepas memori ke masa lalu. Stop! ingatanku terhenti di zaman SMA. Sepertinya aku juga pernah melakukan apa yg dilakukan temanku itu. Memberi tanda hubungan (pacaran) dgn memberikan sesuatu kepada sang pacar. Tapi, sesuatu apa yg aku berikan kepada pacarku waktu itu? Hmmm.... *pura2 MIKIR*
Ting! Aha... aku ingat, CANGKANG TELOR!? #$gedombrang..^%@!
Ya, waktu itu aku memberikan sebutir telor ayam yg isinya sudah aku keluarkan. Ga modal banget kan...? Tapi ini bukan telor sembarang telor. Meski tidak bisa dimakan, telor ini mengandung makna yg dalam buat hubungan aku dgn si dia.
Supaya terlihat istimewa, aku tuliskan namaku di atas telor tsb dgn sedikit hiasan bunga-bungaan. Niatnya sih pengen buat kayak telor Paskah itu lho... Apa daya, kemampuan menggambarku di atas kertas saja kurang bagus, apalagi harus ngegambar dgn media telor. Jadilah, lukisan telor seadanya itu aku titipkan kepadanya. Alhamdulillah, pacarku mau menerima dan menyimpannya.
"Neng, ini ada sesuatu utk kamu," kataku saat bertemu usai pulang sekolah. "Tolong disimpan ya," lanjutku. Dia mengangguk menerimanya sambil tersenyum. "Tapi dibukanya nanti aja ya klo udah sampe rumah," pintaku sambil mengajaknya beranjak pulang.
Keesokan harinya, pacarku senyum-senyum terus saat bertemu denganku. Mungkin dia merasa aneh dengan pemberianku itu. Kemudian aku mengajaknya mengobrol membahas makna cangkang telor itu. "Tau ga kenapa aku memberikan telor itu," tanyaku membuka obrolan. Dia cuma geleng kepala. Baiklah, akan aku jelaskan. Begini,
Kamu tau, di dalam telor itu ada bagian yg berwarna kuning dan putih. Emak bilang, KUNING TELOR bisa digunakan utk campuran membuat bolu/kue. Peran kuning telor adalah agar bolu/kue terasa LEMBUT, TIDAK KERAS. Oleh karena itu, aku berharap hubungan kita ini diisi dengan rasa cinta yang penuh KELEMBUTAN HATI. Meski kamu agak tomboy, mudah2an sifatmu TIDAK KERAS dalam menjalani hubungan ini.
Kemudian PUTIH TELOR, katanya, bahan yg digunakan utk merekatkan batu-batu di candi Borobudur yg megah itu menggunakan PUTIH TELOR. Sehingga aku berharap hubungan kita bisa saling mendekatkan, merekatkan, menguatkan satu sama lain. Kamu tau, cangkang telor itu sangat rapuh, gampang banget pecah, hancur, dan remuk. Dan seperti itulah masa-masa kita sekarang ini. Masa remaja yg mungkin akan mudah terpengaruh, labil, dgn hal-hal yg dihadapi. Jika telor itu pecah, maka kita putus. Jadi, tolong jaga baik-baik ya.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan pacaran berjalan lancar. Hingga pada suatu pagi dia mendatangiku dgn wajah yg murung. "Telornya pecah..." ungkapnya pelan. "Maaf ya..." lanjutnya. Mulai saat itu aku dan dia mulai jarang ketemu, tidak pernah ketemu. Dan saat ketemu, dia sudah menjadi istri orang. Hiks...hiks...
***
Yah, begitulah. Hidup ini dipenuhi simbol dan tanda (tanya). Benarkah simbol muncul karena ketidakmampuan manusia mengatasi kontradiksi yg ada pada dirinya maupun alam semesta? Sehingga kita hanya sibuk mengurusi simbol dan tanda dalam hidup ini. Bahkan sekedar utk mengekspresikan rasa cinta kita? Bagaimana dgn Anda?
Minggu, 03 Agustus 2008
Sorry, Gue Golput!