Minggu, 10 Agustus 2008

Bagaimana Seharusnya Tertawa?

Ridendo Dicere Verum - Sambil Tertawa Bicara Kebenaran.
Bagi yang hobi baca komik Sawung Kampret karya Dwi Koen Br, tentunya kalimat di atas sudah tidak asing lagi. Tapi, di sini aku tidak akan cerita tentang komik. Aku cuma tertarik dengan ungkapan sambil tertawa bicara kebenaran. Kalau misalnya dibalik menjadi bicara kebenaran sambil tertawa bagaimana ya? Namun, di sini aku juga tidak sedang ingin bicara tentang kebenaran. Kali ini aku mau cerita tentang tertawa. Tepatnya tentang komentar teman-teman tentangku ketika tertawa.
"Mi, kenapa sih kalo kamu tertawa matanya merem?" tanya seorang teman suatu ketika. Waduh, ini pertanyaan atau tebak-tebakan nih. "Masa sih," jawabku balik bertanya. "Iya, beneran deh!" jawab temanku meyakinkan. "Hati-hati, Mi. Kalo lagi kumpul bareng temen-temen, terus kamu tertawa, nanti mereka pada kabur kamu ngga tau. Ditinggal sendirian deh," lanjutnya dengan nada meledek. "Hahaha...." temanku tertawa dan aku pun ikut tertawa mendengarnya. Tapi... Lho, temenku tadi ke mana yak? jangan-jangan kabur. Clingak-clinguk... Wah, beneran nih aku ditinggal kabur. Hehehe...

Pertanyaan dan pernyataan seperti itu sudah sering aku dengar dari teman-teman bahkan keluargaku. "Mi, kamu tertawa kok merem. Ada-ada aja," kata temanku lagi di lain kesempatan. Aku menanggapi itu semua sebagai bentuk perhatian teman-teman kepadaku. Sampai bagaimana aku tertawa saja mereka tahu. Padahal aku sendiri tidak pernah memperhatikan bagaimana mereka tertawa. Atau, jangan-jangan caraku tertawa sambil merem adalah sebuah kelainan, tidak umum terjadi sehingga terlihat mencolok di mata mereka? Entahlah, yang pasti itu masih mendingan daripada mereka berkomentar tentang gigiku yang kuning atau bahkan bau mulut yang terbuka lebar saat tertawa. Hehehe...

Baiklah, itu aku, yang kalau tertawa merem. Tapi, bagaimana aku bisa meyakinkan diriku tentang hal itu. Akhirnya aku coba tertawa sendiri di depan cermin. Ternyata benar, aku tidak bisa melihat bagaimana aku tertawa. Kalau aku tertawanya tidak merem kan pasti bisa lihat bayanganku yang sedang tertawa di depan cermin. Selain itu, aku juga menemukan foto saat aku tertawa seperti di bawah ini;

Meski kedua jari-jari tangan bergaya ala rocker, aku bukan sedang berteriak bernyanyi, aku sedang tertawa melihat Wandi yang berpose sambil ngupil.

Lalu, bagaimana seharusnya tertawa?

Menurutku, setiap orang punya kebiasaan dan mungkin ciri khas tersendiri ketika tertawa. Hal ini bisa dilihat dari gerak tubuh, raut muka, suara, hingga lamanya waktu tertawa. Ya, tertawa adalah laku manusiawi yang ternyata harus kita syukuri sebagai karunia Tuhan kepada makhluk yang bernama manusia. Dan segala yang Tuhan berikan sudah pasti bermanfaat bagi yang menerimanya. Coba bayangkan, seandainya manusia di bumi ini tidak dikarunia sebuah nikmat tertawa.

Tertawa itu pekerjaan yang paling mudah. Asal ada pemicu tentunya raut muka yang tadinya tegang berubah riang gembira. Secara medis/psikologis tertawa juga mempunyai efek positif pada mental seseorang. Dan katanya, orang yang mudah tertawa lebih cepat sembuh dari penyakit ketimbang orang yang lebih banyak mengeluh apalagi menangis. Tidak heran jika sudah banyak terapi penyembuhan atau relaksasi dengan cara tertawa. Tentu saja tertawa biasa berbeda dengan tertawa yang ditujukan untuk penyembuhan.

Tertawa dapat merangsang pengeluaran endorphin, serotin ditambah melatonin yang merupakan zat kimia positif. Release dari zat tersebut menyebabkan perasaan tenang dan tenteram. Sebaliknya, tertawa mengurangi pengeluaran adrenalin, kortisol dan radikal bebas yang disebut zat kimia jahat. Selain itu dapat juga menurunkan tekanan darah dan detak jantung, mengurangi kadar kolesterol jahat. Sistem immune juga dirangsang dengan tertawa, yaitu salah satunya melalui sel antikanker yang akan memakan sel kanker dalam tubuh.

Selain bermanfaat bagi kesehatan, tertawa juga punya nilai ekonomi/bisnis yang tinggi. Terbukti dengan banyaknya dunia pertunjukkan yang mengeksplorasi. belakangan mungkin lebih cocok disebut eksploitasi, respon/sensor tawa penonton. Lihat saja berapa banyak acara lawak yang ada di TV. Salah satu stasiun TV pun pernah rutin menggelar audisi pelaku dunia lawak Indonesia.

Bahkan, eksploitasi tawa penonton/pemirsa tidak lagi menjadi monopoli program tayangan lawak. Lihat saja berapa banyak variety show/talk show di TV yang booming karena aksi kocak pembawa acaranya. Misal, Empat Mata dengan Tukul Arwana dan kawan-kawannya. Semakin katro, lucu, dan gila aksi Tukul dkk, semakin banyaklah orang yang menonton. Betapa tertawa telah dapat memakmurkan kehidupan Tukul bersama anak dan istrinya si Tuti Similikiti Weleh-weleh itu. Hehehe... Tertawalah, sebelum tertawa itu dilarang. Kira-kira begitu kalimat yang kita baca di akhir film-film Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro) yang legendaris itu.

Namun, bagaimana seharusnya kita tertawa di tengah kondisi bangsa yang macam ini? Kesenjangan ekonomi yang belum juga beranjak dalam kehidupan rakyat dari negeri yang katanya kaya akan sumber daya alamnya ini? Sementara para pejabat dan wakil rakyat bekerja layaknya panitia penghancuran negara yang bernama Indonesia! *DEMONSTRAN mode on*

Aku curiga, jangan-jangan negara ini, INDONESIA, hanyalah sebuah dagelan. Dimana rakyatnya dicekoki dengan berbagai tayangan dangkal yang mengumbar tawa. Sehingga ketika ada pejabat atau wakil rakyat yang ketahuan korupsi, main perempuan, mengkonsumsi narkoba, dan laku bejat lainnya, rakyat tidak perlu pusing. Anggap saja itu sebagai lelucon dan GRRRRRRR......!! Kita cuma bisa tertawa dan bilang, "Hehe... kesadap niye telponnya. Malu tuh..." dan kemudian kembali lagi ke laptop!

Hmmm... sebentar, perasaan tadi aku cerita tentang aku yang tertawa sambil merem kan? Kenapa jadi sibuk ngurusin negara neh?! Oooo.... tadi aku tertawa, merem, kemudian.... waduh, aku kerasukan roh para pejuang Republik ini, mulai dari Jendral Soedirman, Bung Tomo, Tan Malaka, Bung Karno, Bung Hatta, M. Natsir, de-el-el. Hehehe... maklum, mau 17-an neh.

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA !

4 komentar:

Vina Revi mengatakan...

Kalo aku, pas ketawa memang selalu merem. Udah turunan dari gen Mama yang ada encrutan China-nya, Mi! sigh ...

Antown mengatakan...

pertamax dulu ah....

Antown mengatakan...

ah sudahlah mi, mending kamu ikutan kontes di blogku. mau ketawa gapapa, mau ngapain juga gpp, asal tidak menghujat saja.

sante saja, mungkin ente ada peluang menjadi pemenang. ditunggu lho partisipasinya....

suwun

Fahmi FR mengatakan...

@vina revi: horee...! aku ada temennya nih.
@antown: santai bos, kontes aku juga pasti ikutan koq.